Kamis, 05 Agustus 2010

__Memahami Pasangan__







Lelaki dan perempuan berbicara dengan pemaknaan yang berbeda. Agar tak jadi keretakan dalam berumahtangga, maka suami istri harus pandai berkomunikasi.


Semua orang pasti ingin dipahami, dimengerti apa maunya, dipenuhi kebutuhannya, dan dituruti keinginannya. Seorang istri yang sudah seharian sibuk dengan anak dan pekerjaan rumah, pasti sangat bahagia bila suami ikut membantu menjaga anak atau sekadar mencuci piring. Demikian pula seorang suami yang lelah setelah bekerja, pasti ingin disambut dan dilayani begitu sampai di depan rumah.

Tujuan Bersama

Pernikahan adalah bersatunya dua anak manusia yang berlainan jenis dan latar belakang. Lelaki dan perempuan dalam sebuah biduk rumah tangga laksana kepingan-kepingan puzzel yang satu sama lain akan saling mengisi. Mereka saling bersinergi, menyatukan dua kesatuan yang utuh. Semua itu hanya bisa terwujud, bila masing-masing pihak yakin bahwa terdapat keuntungan lebih besar jika menyatukan kekuatan, energi, bakat, dan sumber daya daripada tetap sendiri-sendiri.

Dalam Islam, pernikahan bukan sekadar melengkapi fitrah sebagai manusia, tetapi terwujudnya cita-cita besar membangun peradaban yang sesuai dengan nilai-nilai Ilahiyah. Cita-cita besar ini harus diawali dengan terbentuknya pribadi-pribadi yang mengenal dirinya. Mengenal bahwa ia membutuhkan orang lain untuk mengisi kekurangannya, melengkapi dirinya sebagai seorang manusia. “Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu mengingat (Kebesaran Allah)” (Adz-Dzariyat [51]: 49).

Ketika seseorang menikah, itu artinya ia sepakat untuk menjadikan pasangannya sebagai bagian dari hidupnya. Ia perlu menyediakan tempat dalam kehidupannya untuk ‘manusia lain’. Ia tidak bisa lagi bertindak seenak hati, kapan saja, tanpa mempertimbangkan keinginan pasangannya. Ia harus bersedia melakukan penyesuaian, karena ada orang lain yang menapaki waktu dan berbagi perjalanan hidup bersamanya demi tujuan besar itu.

Kenali Pasangan

Lelaki dan perempuan adalah dua makhluk yang Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) ciptakan berbeda. Bukan saja berbeda secara fisik, melainkan juga dalam cara berkomunikasi, cara berpikir, merasa, memahami, bereaksi, menanggapi, mencintai, dan memberi penghargaan. Mereka hampir-hampir seperti berasal dari planet yang berbeda, berbicara dengan bahasa yang berbeda.

Masing-masing mempunyai peran yang berbeda dan saling melengkapi. Laki-laku dengan fitrahnya sebagai seorang pemimpin yang bertanggung jawab atas kebutuhan keluarga. Laki-laki lebih mampu bekerja, berjuang, dan berusaha di luar rumah. Perempuan diciptakan dengan perasaan yang halus karena disiapkan Allah SWT sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya dan diberi kemampuan untuk mengurus rumah tangga. Seorang ‘Umar bin Khaththab pun tidak keberatan ketika diomeli istrinya. “Mengapa aku harus marah padanya? Ia sudah melahirkan dan mengurus anak-anakku.”

Selain itu, yang perlu diketahui untuk lebih mengenal siapa pasangan Anda sesungguhnya, adalah dengan mengenal keluarganya; bagaimana ia dididik dan diasuh oleh orangtuanya. Apakah ia terbiasa diasuh dengan pola disiplin yang tinggi atau selalu dimanja. Menurut Psikolog Keluarga, Elly Risman Musa, pola asuh akan membentuk karakter seseorang.

Kesadaran inilah yang harus dibangun. Tanpa kesadaran tersebut, suami dan istri akan selalu berselisih karena berharap pasangannya mirip dirinya. Kondisi seperti ini tentu sangat tidak kondusif dan kontraproduktif dalam membangun kebersamaan mencapai keluarga sakinah mawaddah warahmah.

Ubah Paradigma

Sebelum menikah, yang menjadi pusat perhatian seseorang adalah dirinya sendiri. Namun, setelah menikah sudut pandangnya berubah dari “aku” ke “kita”. Jika selama ini Anda hanya memikirkan keinginan atau kebutuhan diri Anda sendiri, sekarang cobalah ubah paradigma tersebut. Jika dulu segala hal selalu terpusat pada diri Anda (egosentris), sekarang pusat perhatian tersebut adalah kepentingan bersama; Anda dan pasangan.

Sekarang Anda tidak lagi sendiri. Ada orang lain yang berbagi kehidupan dengan Anda. Anda harus memahami bahwa bukan keinginan Anda saja yang harus selalu dituruti. Anda harus mau mengubah rencana sewaktu-waktu demi menampung aspirasi pasangan Anda. Semua itu demi kebahagiaan Anda berdua, demi mewujudkan tujuan bersama.

Bila Anda seorang laki-laki, sekarang Anda telah memiliki istri. Istri yang menjadi tanggung jawab Anda di dunia dan akhirat. Ada hak-haknya yang harus Anda perhatikan dan penuhi. Dan, bila Anda seorang perempuan, sekarang Anda telah memiliki wali, pengganti orangtua yang harus Anda taati. “…Seorang suami adalah pemimpin, dan dia akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya itu. Seorang Istri adalah pemimpin, dan dia akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya itu…” (Riwayat Bukhari)

Komunikasi

Dengan komunikasi yang baik, suami dan istri saling mengenal siapa diri mereka, apa yang mereka butuhkan dan inginkan, dan bagaimana perasaan mereka. Tanpa komunikasi, sebuah hubungan akan sangat sulit dibangun.

Sesungguhnya komunikasi tidak hanya berbicara dan mendengarkan tetapi menyangkut penciptaan saluran-saluran terbuka bagi aliran informasi tentang pikiran dan perasaan. Dasarnya adalah saling menghargai dan memahami serta kesediaan menyingkap yang sebenarnya.

Sampaikanlah kepada pasangan apa yang Anda sukai dan tidak disukai. Sampaikan pula apa yang Anda inginkan dari pasangan. Jangan berharap pasangan mengerti apa yang Anda inginkan, jika tidak dikomunikasikan. Ingat, bahwa Anda dan pasangan punya cara berpikir yang berbeda. Jalan pikiran Anda dan dia tidak sama. Oleh karena itu, jangan berpikir menurut cara berpikir Anda.

Jangan pernah mempunyai anggapan bila pasangan mencintai Anda, itu berarti ia selalu tahu apa yang Anda inginkan. Pasangan tetap seorang manusia biasa yang tidak dapat mengetahui apa yang tersimpan dalam hati. Malah terkadang, sesuatu yang menurut Anda begitu jelas terlihat, bisa jadi menurut pasangan tidak.

Perhatikanlah waktu dan cara yang tepat untuk mengomunikasikan apa yang menjadi keinginan Anda. Dengan mengetahui bagaimana cara berkomunikasi yang efektif, memungkinkan Anda mengungkapkan diri dengan jelas. Mulai dari sesuatu yang Anda anggap remeh sampai masalah yang sangat penting dan genting sekalipun. Bahkan, dengan komunikasi yang efektif, Anda bisa dengan tepat mengungkapkan apa yang Anda rasakan dan memastikan pasangan Anda bisa menerima dengan baik.

Terlepas dari semua itu, keyakinan bahwa Allah-lah yang mengatur siapa yang menjadi pasangan atau jodoh Anda perlu sungguh-sungguh ditanamkan. Juga, bahwa setiap manusia diciptakan berbeda satu sama lain. Pada masing-masing orang, Allah berikan kelebihan dan kekurangan. Kekurangan apa pun yang dimiliki pasangan Anda, terimalah itu dengan hati yang lapang. Bisa jadi Allah menjadikan banyak kebaikan di balik itu semua (An-Nisa [4]: 19).

SUARA HIDAYATULLAH JULI 2010 *Sandradewi, ibu rumah tangga tinggal di Tangerang

Rabu, 04 Agustus 2010

~* Mengeratkan Cinta dengan Privasi *~







Berprivasi sering dianggap tidak terbuka. Sejatinya, privasi malah menumbuhkan percaya dan saling menghargai


Setelah pernikahan dilangsungkan, agenda selanjutnya yang dijelang oleh setiap pasangan adalah adaptasi. Meski sudah mengenal bahkan telah berteman sekian tahun, pasti ada saja masalah yang harus diadaptasikan. Salah satunya adalah masalah privasi.

Bagi yang terbiasa menggunakan barang bersama-sama di rumah, mungkin akan terkaget-kaget ketika harus menyesuaikan diri dengan pasangan yang terbiasa menggunakan barang atas nama pribadi. Seperti buku harian, telepon genggam, alat tulis pribadi, bahkan gelas pribadi. Yang terbiasa “bersama” akan merasa sangat direpotkan dan yang terbiasa berprivasi merasa dilangkahi.

Banyak orang yang berpendapat bahwa setelah menikah, tidak ada lagi privasi yang mesti dijaga dengan pasangan. Bahkan ada yang mengatakan setelah menikah maka apa yang ada adalah milik bersama. Termasuk juga masa lalu pasangan, harus setransparan mungkin diketahui bersama.

Hargai dan Negosiasi

Namun, benarkah privasi kontradiksi dengan keterbukaan? Sesungguhnya privasi dan keterbukaan adalah dua hal yang berbeda dan tak memiliki hubungan sebab akibat, sehingga tak dapat kontradiksi di ranah yang sama. Privasi sejatinya timbul dari naluri untuk memiliki. Keterbukaan adalah kondisi ketika kita tidak menyembunyikan sesuatu dari orang lain. Berprivasi bukan berarti kita menyembunyikan sesuatu dari pasangan dan bermain belakang darinya.

Setiap orang pastinya memiliki pribadi yang berbeda dan kecenderungan yang berbeda. Menghormati perbedaan inilah sesungguhnya arti privasi. Kita menghormati bahwa pasangan kita memiliki hobi yang berbeda dan menginginkan waktu untuk menikmati hobi tersebut sendiri saja, inilah yang disebut dengan privasi.

Karena privasi sejatinya adalah naluri, maka kita pun dituntut untuk senantiasa berhati-hati dalam menjaga yang satu ini. Layaknya saat kita menyatakan bahwa “ini suamiku”, “ini rumahku”, atau “ini tanggung jawabku” maka bila ada yang mencoba mengusiknya tentu kita akan merasa terganggu. Dengan demikian, ketika sudah menikah, perlu disepakati batas-batas wilayah privasi masing-masing orang yang tak boleh dilanggar.

Negosiasikanlah dengan pasangan secara jelas, apa yang disukai dan tidak disukai oleh masing-masing orang. Ini akan membantu kita memetakan mana yang bisa diakui sebagai wilayah bersama, mana yang secara utuh merupakan milik perorangan. Bernegosiasi dalam masalah-masalah unik seperti ini pun dibolehkan dalam Islam.

“Kaum Muslimin berada dalam persyaratan yang ditetapkan di kalangan mereka sendiri, kecuali persyaratan yang menghalalkan yang haram, atau mengharamkan yang halal.” (Riwayat At-Tirmidzi).

Memetakan wilayah privasi akan sangat menguntungkan kedua belah pihak dalam mengeratkan hubungan. Misalkan saja, Anda tidak menyukai pasangan Anda membuka SMS di hand phone Anda. Bukan karena alasan yang “nyeleneh”, tetapi karena Anda termasuk orang yang tidak mengetahui ada SMS yang masuk kecuali dengan melihat pemberitahuan yang ada di layar. Namun, bila pasangan sudah tahu masalah Anda tersebut sekaligus juga mengetahui bahwa Anda tidak berkeberatan bila ia mengangkat telepon saat Anda tak dapat menjawabnya, tentu kesepahaman ini justru bermanfaat bagi Anda berdua.

Di sinilah justru peran penting keterbukaan. Bila tidak saling terbuka pada pasangan, maka akan sulit diperoleh kesepahaman untuk dapat memetakan wilayah privasi kita.


Privasi vs Percaya

Jangan salah mengartikan wilayah privasi sebagai wilayah yang menyimpan hal-hal rahasia. Bila ternyata dia tidak menyukai Anda membuka email-nya, mungkin di dalamnya terdapat sejumlah beban pekerjaannya yang dikhawatirkan dapat membuat Anda cemas. Cobalah untuk memaklumi apa yang menurutnya baik untuk Anda ketahui.

Semangat untuk memaklumi dan mengerti ini akan timbul dengan satu syarat, yaitu Anda dan pasangan telah saling memercayai. Bila rasa percaya ini telah begitu melekat pada kita, lantas apa perlunya mencari tahu apa yang tidak diungkapkan pasangan pada kita.

Tak selamanya blak-blakan dan jujur apa adanya, baik untuk kehidupan berumahtangga. Mari menyimak sejenak, apa yang pernah Rasulullah lakukan terhadap istri-istrinya manakala mereka menanyakan kepada Rasulullah siapakah istri yang paling disayanginya. Lelaki yang penuh kasih ini tidak lantas menjawab dengan “jujur” siapa yang paling disayanginya. Ia hanya tersenyum dan menjawab, “Aku akan beritahukan kepada kalian nanti.”

Setelah itu dalam kesempatan yang berbeda, Rasulullah kemudian menggenggamkan sebuah cincin pada masing-masing istrinya seraya berpesan pada setiap istri bahwa cincin ini adalah tanda cinta mereka yang terlalu indah untuk dibagikan kabarnya pada orang lain.

Di kemudian hari ketika para istri berkumpul kembali dan menagih jawaban dari suami terbaik ini, lisannya berucap, “Yang paling aku sayangi adalah dia yang kuberikan cincin kepadanya.” Maka setiap istri pun berbunga hatinya dan merasa bahwa ialah yang terindah.

Inilah teladan yang diberikan oleh Rasulullah bahwa kejujuran tak selalu berarti membuka apa adanya semua hal. Percaya pun tidak selamanya dibangun dari kejujuran, apabila kejujuran tersebut tidak ditempatkan dalam sikap yang bijak. Yakinlah bahwa setiap orang diberkahi naluri untuk melindungi orang yang disayanginya dalam keadaan baik. Karena itu, jangan ragukan pasangan Anda sebagai seorang khalifah Allah yang senantiasa menjaga amanah-Nya dalam kebaikan, yaitu Anda.

Mengapa Harus Berprivasi

Rasa tidak dipercaya, rasa selalu menjadi tersangka, atau malah terluka akan senantiasa menjadi benalu dalam hubungan kita dengan pasangan. Rasanya mungkin tak ada salahnya bila kita membiarkan ia sejenak sibuk dengan rencana-rencana barunya dengan sahabat lamanya. Bahkan, mungkin kita justru akan merasa lebih aman dan tentram bila ia memilih untuk tidak membiarkan kita membaca buku harian yang telah ditulisnya semenjak SMP.

Privasi akan membuat kita dan pasangan belajar untuk saling mempercayai dan menghargai. Kita akan lebih ringan untuk menerima setiap sikap yang dipilihnya bila memang berdasarkan itikad untuk membahagiakan. Kita pun menjadi orang yang senantiasa menyadari bahwa Allahlah Yang Maha membolak-balikkan dan menjaga hati pasangan kita. Segigih apa pun kita berusaha, keputusan Allah adalah final dari setiap harapan kita. Karenanya, senantiasa berprasangka baiklah kita pada Allah dan pasangan kita.

Privasi pun akan membuat kita dengan tulus menerima kenyataan bahwa dirinya adalah seseorang yang terbentuk dari masa lalu dan dunia yang berbeda. Memaksanya untuk memasuki dunia yang sama hanya akan membuat salah satu diantara Anda dan dia tersiksa. Bukankah menjadikan dunia kita dan dunianya berdampingan akan lebih baik? Kita akan tetap merasa nyaman sekaligus tetap terikat dalam ketergantungan yang membuat kita kehilangan manakala berjauhan.

Karena, setiap pilar yang menopang tegaknya sebuah rumah pun tak selalu berada di tempat yang sama. Justru karena berada di tempat yang berbeda, ia dapat membuat rumah tersebut berdiri dengan kokoh. Itulah indahnya privasi. Insya Allah.





SUARA HIDAYATULLAH JUNI 2010 *Kartika Trimarti/Penulis tinggal di Bekasi

::: DisOrientasi :::



Ada yang pernah mendengar kata ini..? Mungkin sudah sering Anda menyimak istilah ini di berbagai permasalahan. Tapi,ada yang bisa menebak apa yang aku maksud dengan kata ini..?Atau mungkin ada yang sudah tau kenapa aku menulis "note" seperti ini..?


Pernahkah Anda merasa gundah-gulana, gelisah, menerawang atau apapun lah namanya…Sering mungkin. Apa yang Anda pikirkan ketika itu…? Macam-macam. Aku pun sering mengalami hal tersebut. Uring-uringan, merasa ada yang tak beres telah terjadi. Namun yang kurasa beberapa waktu terakhir ini berbeda.


Aku merasa berada di ruang sempit, pengap dan tak berujung. Rasanya tak ada yang bisa kulakukan untuk merubah keadaan. Segalanya terasa percuma. Apa-apa yang kuusahakan tak ada gunanya,tak ada yang mau mengerti. Aku pikir aku tidak berada pada jalur yang benar.:)


Aku pun mempertanyakan,”Apakah ini semua yang kuinginkan..?” atau “Apakah aku sudah merasa bahagia dengan ini semua…?”. Bingung menjawabnya. Aku seperti kehilangan arah,tak tahu apa yang ingin aku tuju, dan tak tahu kenapa aku bisa berjalan hingga sejauh ini.


Aku terjebak dalam satu sudut yang pengap, Inilah yang aku sebut sebagai disorientasi. Dirimu seakan-akan tenggelam dalam perasaanmu. Perkataan orang-orang tak berpengaruh banyak padamu. Yang ada dipikiranmu hanyalah pertanyaan, bahkan penyesalan tak berujung. Kebahagiaan seperti terenggut lepas dari hidupmu. Tak ada yang tersisa,hanya dirimu yang merasa hampa dan tak bermakna...


Diri lanjut bertanya,”Kemanakah sekarang aku berjalan..?”.Hilang arah tanpa tujuan. Tak jelas kemana kaki melangkah. Jiwa enggan untuk memulai. Karena hati ragu, akankah ini semua berakhir indah…?


Ha…ha…ha…, mungkin sekarang Anda tertawa melihat keadaanku ini. Namun, apakah Anda sekalian pernah merasakan hal yang sama..? Rasanya jauh lebih tak mengenakan jika sekedar dibandingkan dengan putus cinta, sakit gigi, tidak lulus kuliah apalagi patah hati. Segala perasaan campur aduk jadi satu. [Duh Robbi…, gimana ini…].


Tapi apakah itu buruk ketika aku merasakannya..? Aku pikir ini adalah salah satu ujian terberatku sampai saat ini. Tak ada seorang pun yang bisa mengangkatmu ke permukaan selain dirimu sendiri [ bisik jiwaku ]. Rasa yang Anda rasakan ketika mengalami disorientasi tak akan dimengerti oleh orang kebanyakan. Paling mereka hanya bilang “Alaaah, yang kayak gituan ngapain musti dipikirin…?” bahkan “Lu cengeng amat sich…!”. Jangan berharap banyak pada bantuan orang lain, karena semua keputusan ada di tanganmu.[ kembali sang jiwa menghakimiku ]


Hanya ada dua kemungkinan akhir dari disorientasi ini. Pertama, Aku merasa semakin kacau dengan keadaan yang ada, tenggelam dalam perasaan yang tak jelas, dan mematung tanpa sanggup berbuat apa-apa. Jelas,ini bukan akhir yang baik. Kedua, Aku segera insaf bahwa apa yang aku cari di dunia tidak selalu mesti tergapaikan sesuai harapan, aku mencoba tuk memahami reality ini…


Seperti yang telah kusampaikan tadi, Anda boleh mencemooh aku dan keadaanku saat ini, tapi ketahuilah ketika Anda mengalami disorientasi seperti yang tengah aku alami Anda akan merasakan sebuah nuansa seperti berada dalam ruang gelap tak berujung, pengap dan menjenuhkan..., Pilihannya, Anda harus selalu mencari jalan keluar dari ruangan itu, karena Anda merasa tak suka berada di dalamnya bukan..., Yang ada dalam pikiran Anda hanya lari, kabur dari ruangan gelap ini. Hingga nantinya Anda tahu, bahwa tak mudah tuk mendapatkan jalan keluar, Anda meringkuk, menangisi semua kesia-siaan yang telah Anda lakukan…


Atau mungkin Anda menjalani pilihan berikutnya. Anda sadar, yang Anda miliki sekarang adalah ruangan ini. Meskipun itu pengap dan tak berujung, Anda tahu bahwa Anda masih bisa hidup didalamnya. Untuk itu, Anda berusaha mencari sumber cahaya di ruangan itu, bukannya lari dari masalah. Yang ada dipikiran Anda hanyalah bagaimana hidup sebahagia dan seindah mungkin di dalam ruangan yang sekarang Anda miliki. Karena, hanya Anda yang bisa memastikan apa yang ada pada diri Anda sekarang merupakan yang paling baik yang telah Anda dapatkan.

Aku ngerti dan faham, tapi kenapa begitu sulitnya tuk menapakan kaki dan memilih satu jalan pilihan…

Lagi – lagi hamba mohon pertolongan-Mu ya Robbi…

by Aysha
Jum'at 30072010 – Senja di Lembah Penantian Abadi.

~~ Memuliakan Pasangan ~~




Banyak orang yang setelah menjalani hidup berumahtangga justru merasa “marah” pada pasangannya. Bagaimana mengatasinya..?


Dalam sebuah pelatihan parenting, saya mengikuti sesi yang membahas bagaimana caranya memahami pasangan. Menarik sekali mengamati bagaimana peserta yang seluruhnya perempuan bercerita tentang hubungan mereka selama ini dengan pasangan masing-masing.

Ada yang merasa sangat bahagia dengan pasangannya yang semakin baik memperlakukannya. Namun, kebanyakan mereka menyatakan kecewa pada pasangannya masing-masing. Berbagai sebab yang melatari kekecewaan mereka. Misalnya, dianggap remeh oleh pasangannya, merasa dinomorduakan dibandingkan kepentingan lain oleh suaminya. Ada juga yang merasa terkekang oleh sikap pasangan, bahkan ada yang merasa “dirampok” oleh pasangannya.

Perkawinan Penyebab Bencana..?

Kemarahan menyeruak manakala para istri tersebut menceritakan hal yang terpendam dalam batinnya. Baik yang menceritakannya dengan terang-terangan maupun menyembunyikannya dalam penuturan mereka tentang kesabaran dan penerimaan.

Sungguh, saya sangat kagum dengan sikap para perempuan-perempuan yang berhati lapang. Sebab, betapapun kemarahan itu ada dalam diri mereka, tak satupun yang melontarkan niat untuk bercerai, atau minimal membalas perlakuan pasangannya. Namun, saya yakin kemarahan yang terlupakan dan kemudian mengendap di bawah sadar tersebut bukan hal yang baik, kalau bukan berada di tingkat yang membahayakan.

Seringkali, dalam pernikahan, perempuan adalah pihak yang merasa dikorbankan. Dituntut untuk melakukan sekian banyak hal –yang bahkan ketika hidupnya bersama orangtuanya ia tak harus melakukannya. Itulah makanya, mitos pasca perkawinan yang seringkali terdengar, terutama di masyarakat Barat adalah “perkawinan jauh lebih baik bagi pria daripada bagi wanita.”

Sebuah pertanyaan lalu muncul dalam artikel yang dimuat dalam USA Today pada tahun 1997, “Apakah menikah berarti membelenggu wanita..?” Sementara penulis artikel itu sendiri kemudian memaparkan pernyataan seorang professor di bidang psikologi, “Perkawinan melindungi pria dari depresi tetapi membuat wanita lebih rentan.”

Kenyataan yang kemudian didapati, beberapa perempuan memang merasa “dirampok” setelah memutuskan untuk menikah. Perempuan merasa perkawinan adalah alat pemotong yang paling cepat memisahkan dirinya dengan karier, teman-teman, cita-cita, dan aktualisasi diri.

Padahal, tentu saja tujuan perkawinan bukanlah untuk membuat salah satu dari pasangan merasa dirugikan, marah, atau direndahkan. Bahkan, bukankah tujuan perkawinan yang digariskan Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) agar kita merasa tentram dengan keberadaan pasangan kita?

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (ar-Ruum [30]: 21).

Inilah yang seringkali terlupa oleh kita, bahwa dalam perkawinan yang terpenting adalah bagaimana caranya menciptakan kasih sayang, bukan semata menetapkan daftar hak dan kewajiban.

Mengupayakan Kemuliaan

Mari sejenak kita resapi jawaban ‘Umar bin Khaththab Radhiyallahu anhu (RA) ketika ia ditanya oleh seorang Arab Badui, mengapa ia diam saja ketika istrinya marah dan berteriak padanya. “Wahai saudaraku semuslim, aku berusaha menahan diri dari sikapnya itu, karena ia memiliki hak-hak atas diriku. Aku berusaha untuk menahan diri meski sebenarnya aku bisa saja menyakitinya dan memarahinya. Akan tetapi, aku sadar bahwa tidak ada yang dapat membantu kaum wanita, selain orang yang mulia; dan tidak ada orang yang merendahkan mereka selain orang yang suka menyakiti. Mereka (kaum wanita) dapat mengalahkan orang mulia tetapi mereka dapat dikalahkan oleh orang yang suka menyakiti. Namun, aku sangat ingin menjadi orang yang mulia meski aku harus kalah (dari istriku) dan aku tidak ingin menjadi orang yang suka menyakiti meski aku termasuk orang yang menang.”

Nah, bila kita termasuk orang yang ingin masuk dalam kategori mulia seperti yang digambarkan ‘Umar dalam perkataannya di atas, tentu tidak ada suami atau istri yang merasa dikalahkan, merasa direndahkan, dan memendam amarah. Setiap dari kita akan berusaha menahan diri untuk menjadi orang yang mulia, meskipun harus mengalah. Memuliakan pasangan kita agar tidak terluka sekaligus adalah upaya memuliakan diri sendiri karena menghindarkan diri dari tipu daya setan lewat amarah.

Proses untuk menjadi pribadi yang mulia ini tentu adalah perjalanan yang sulit. Namun, mengingat kembali tujuan utama kita menikah akan mendorong kita berusaha untuk menjalani hal yang sulit tersebut. Tujuan utama pernikahan yang disepakati akan menjadi sumber energi manakala perkawinan berhadapan dengan masalah.

Proses ini membutuhkan kematangan pribadi seseorang, sekaligus mampu mempercepat kematangan pribadi. Karena, dengan mengikatkan diri dalam perkawinan berarti seseorang telah siap untuk menerima tanggung jawab sebagai seorang istri, sebagai suami, dan kemudian peran sebagai orangtua dari anak-anak yang lahir. Penambahan peran dari peran-peran sebelumnya ini juga berarti satu hal: kemampuan dan kemauan kita untuk berubah.

Memang apa yang kita jalani setelah memasuki jenjang pernikahan tak sama dengan saat kita masih lajang. Seorang lelaki tak lagi bisa pulang kerja lalu menikmati makan malam yang diingikannya di restoran lalu kemudian pulang ke rumah dan langsung tidur. Sebab, di rumah telah ada istri yang menunggu dengan makanan yang telah dimasak dengan sepenuh hati.

Demikian juga seorang wanita, tak bisa lagi berlama-lama jalan-jalan di pasar swalayan dengan sahabatnya, karena ia telah mengambil keputusan untuk bertanggung jawab atas perannya sebagai istri dan orangtua.

Berusaha untuk saling memahami bahwa segala sesuatunya telah berubah akan menjadikan pasangan seiya-sekata dalam menghadapi beratnya kenyataan hidup. Kini, mereka bukan lagi seorang manusia melainkan sepasang manusia. Cobalah membuka hati untuk menyadari bahwa apa yang kita lakukan kini berdampak bagi banyak orang.

Dengan demikian, kita akan berusaha mengelola ego dan berusaha untuk melihat dari sudut pandang orang banyak. Namun, bukan berarti harus selalu menempatkan diri kita pada posisi yang kalah. Bernegosiasilah dengan pasangan dan pada keadaan. Sehingga kita bisa merasakan apa yang dirasakan olehnya tanpa mengesampingkan apa yang membuat kita bahagia.

Berbicara dari hati ke hati, mencoba menempatkan diri pada posisinya tentu akan membuat perasaan tentram itu semakin meliputi hati. Rasa kasih sayang pun akan tumbuh dengan subur. Tak ada lagi perasaan direndahkan, dinomorduakan, marah, bahkan “dirampok” oleh pasangan. Kita akan tahu mengapa kita harus melakukan itu bagi pasangan dan pasangan pun mengerti dalam batas apa ia boleh meminta hal tersebut pada kita.

Memang tak mudah, dan butuh proses untuk semua itu. Bahkan, kadang menguras segenap rasa dan upaya. Oleh karena itu, proses untuk meraih ketentraman dan kasih sayang ini hanya bisa dilalui oleh orang-orang yang berpikir. Bukan hanya sekadar mengedepankan ego.

by :Kartika Trimarti.

~* Karakter Wanita Shalihah *~



Dalam beberapa kurun terakhir, wanita Muslimah dihadapkan pada era jahiliyah modern, yang sulit untuk dihindari. Ekses dari masa yang disebut jahiliyah modern ini muncullah banyak wanita karir yang kebablasan dalam segala levelnya. Jumlah mereka kian hari kian bertambah. Boleh dibilang nyaris tidak ada jenis profesi yang belum dirambah kaum hawa.


Walhasil, eksistensi sebagai ratu rumah tangga yang membawa kedamaian dalam lingkupnya, berangsur-angsur memudar. Begitupun tugas sebagai ibu dari anak-anaknya mulai terabaikan. Yang terjadi justru sebaliknya, bahwa setiap saat, dengan mudahnya kita dapati wanita-wanita jahiliyah yang liar, dengan segala perilakunya yang jauh dari norma dan fitrahnya sebagai wanita. Beberepa waktu lalu, bahkan kita dikejutkan dengan munculnya “geng wanita” dengan perilakunya yang sadis.

Anehnya, semua itu dianggap sebagai emansipasi. Ini semua adalah kebutuhan manusia diera kini, katanya. Padahal sejatinya, apa yang mereka lakukan justru memperburuk citra dan fitrah sebagai wanita. Sebuah bentuk emansipasi yang salah kaprah. Mereka mengharap segenggam berlian dengan memasuki wilayah-wilayah kaum pria. Namun yang didapati, biduk keluarga yang berantakan, anak-anak terlantar, dan perceraian yang meningkat.

Masyarakat jahiliyah abad kini telah sedemikian jauh merobek hak dan martabat kaum hawa. Inilah yang membuat mereka terpuruk dalam lembah kenistaan. Banyak kaum Muslimah yang kabur perihal garis batas kewajiban mana yang harus dikerjakan, dan kewajiban mana yang harus ditinggalkan.

Anehnya, kaum Muslimah juga terseret dalam arus utama masyarakat jahiliyah ini. Akibatnya, nilai-nilai agung yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) 1400 tahun yang lalu pun disisihkan. Padahal bila mereka tetap pada posisinya, kemuliaan akan senantiasa Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) limpahkan kepada mereka.

Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah yang menghormati wanita-wanita kecuali orang-orang mulia. Dan tidaklah yang menghinakan wanita kecuali orang yang hina pula.” (Riwayat Ibnu Asakir).
“Wanita itu tiang Negara, bila dia (wanita) baik, maka baiklah negara itu. Tetapi bila wanita itu rusak maka rusaklah negara itu.”(ahli hikmah).

Mestinya wanita bangga dengan sanjungan serta pujian tersebut. Bahkan hendaknya bersyukur karena Islam dengan segala keagungan syariatnya telah menjunjung tinggi martabat wanita.

Seorang wanita akan memiliki kekuatan sebagai benteng (pilar) sebuah bangsa apabila kepribadiannya telah terbebas dari segala bentuk kejahiliyahan. Dengan kata lain, bangsa tersebut akan berkembang dengan baik, kalau penyelenggara negara itu sendiri gigih memperjuangkan kaum wanitanya agar bersih dari sikap kejahiliyahan.

Rasulullah SAW bersabda: “Setelah kepergianku tidaklah aku tinggalkan fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki melebihi wanita.”(Riwayat Mutafaqun’alaihi).

Juga dalam sabda yang lain, Raulullah SAW berpesan: “Takutlah kalian dengan fitnah dunia dan fitnah wanita. Sesunguhnya permulaan fitnah terthadap Bani Israil terjadi dari arah wanita.”(Riwayat Muslim).
Sumber Fitnah?

Kita kaum wanita pun bertanya, benarkah wanita merupakan sumber fitnah bagi kamu pria? Tidakkah mengada-ada bila wanita dikatakan sebagai perangkap setan untuk menjerumuskan lawan jenisnya ke lembah kemaksiatan?

Tak perlu ditutup-tutupi, bahwa dengan segala keindahan dan kelemahan yang kita miliki —yang sekaligus sesungguhnya merupakan kekuatan wanita– setan memperalat kita untuk mempengaruhi kaum pria, dengan segala cara.

Dalam sejarah umat manusia hal tersebut dapat dibuktikan. Tatkala setan gagal menggoda Adam alaihissalam (AS) secara langsung, Hawa memakan buah Khuldi (nama ini sebenarnya tidak tepat, sebab nama Khuldi adalah nama yang diberikan oleh setan untuk memperdaya Adam) yang terlarang itu. Maka terjadilah maksiat dan pelanggaran terhadap Allah SWT. Sampai detik ini, terhadap diri kita, di lingkungan masyarakakat tempat kita berkiprah, setan masih menggunakan trik-trik tersebut.

Pun, mengapa setan memilih wanita untuk menggelincirkan manusia? Karena wanita adalah sosok makhluk yang sangat unik, dan menarik. Sosok yang tidak akan ada habisnya untuk dibahas dari berbagai segi. Seniman mempunyai gambaran tentang wanita bahwa wanita sarat dengan berbagai keindahan dan sumber inspirasi yang tak pernah kering, katanya.

Bagi kaum profan-materialis, wanita adalah mesin produksi uang yang paling menguntungkan. Hampir di semua sisi wanita bisa dieksploitasi untuk menghasilkan pundi-pundi uang.

Di sinilah tragedi yang menimpa wanita. Maksud hati menaklukkan dunia, namun yang terjadi adalah para wanita sejatinya dijadikan objek dengan segala bentuknya. Mereka diperalat dengan sedikit iming-iming kesenangan. Walhasil, ruang istana yang disangka, tetapi kubangan duka yang diperolehnya.
Jika demikian halnya, mengapa kita tidak memilih apa yang telah dipilihkan oleh Allah SWT untuk kita? Menjadi wanita istimewa (shalihah) yang menjadi cahayanya zaman?





Ciri-ciri Wanita Shalihah

Lantas apa ciri-ciri wanita shalihah itu..?

Pertama, ia wanita yang paling taat kepada Allah SWT. Ketaatannya melebihi kepada apapun yang mesti ditaati.

Kedua, ia senantiasa menyerahkan segala urusan hidupnya kepada hukum dan syariat Allah SWT.
Ketiga, ia senantiasa menjadikan al-Qur’an dan al-Hadits sebagai sumber hukum dalam mengatur seluruh aspek kehidupannya.

Keempat, ibadahnya baik dan memiliki akhlak serta budi perketi yang mulia.
Kelima, tidak hobi berdusta, bergunjing dan riya’.

Keenam, berbuat baik dan berbakti kepada orangtuanya. Ia senantiasa mendoakan orangtuanya, menghormati mereka, menjaga dan melindungi keduanya.

Ketujuh, taat kepada suaminya. Menjaga harta suaminya dan mendidik anak-anaknya dengan kehidupan yang islami.
Kedelapan, jika dilihat menyenangkan, bila dipandang menyejukkan, dan menentramkan bila berada di dekatnya. Hati akan tenang bila meninggalkanya ketika pergi.

Kesembilan, melayani suaminya dengan baik, berhias hanya untuk suaminya, pandai membangkitkan dan memotifasi suaminya untuk berjuang membela agama Allah SWT.

Kesepuluh, ia tidak gemar bermewah-mewah dengan dunia, tawadhu dan bersikap sederhana.
Kesebelas, memiliki kesabaran luar biasa atas janji-janji Allah SWT. Ia tidak berhenti belajar untuk bekal hidupnya.

Itulah sekelumit catatan mengenai karakteristik wanita shalihah. Semoga kita dapat meneladaninya, sehingga jannah-lah tempat tinggal kita kelak di akhirat. Alllahumma amin.

*Nur Aminah, aktivis Muslimah Pondok Pesantren As-Syifa Ciamis, Jawa Barat

~*~ apa itu arti Cinta, Rindu, dan Cemburu...~*~


Banyak orang berbicara tentang masalah ini tapi tidak sesuai dengan yang sebenarnya. Atau tidak menjelaskan batasan-batasan dan maknanya secara syari. Dan kapan seseorang itu keluar dari batasan-batasan tadi. Dan seakan-akan yang menghalangi untuk membahas masalah ini adalah salahnya ¬pemahaman bahwa pembahasan masalah ini berkaitan dengan akhlaq yang rendah dan berkaitan dengan perzinahan, perkataan yang keji. Dan hal in adalah salah. Tiga perkara ini adalah sesuatu yang berkaitan dengan manusia yang memotivasi untuk menjaga dan mendorong kehormatan dan kemuliaannya.

Aku memandang pembicaraan ini yang terpenting adalah batasannya, penyimpangannya, kebaikannya, dan kejelekannya. Tiga kalimat ini ada dalam setiap hati manusia, dan mereka memberi makna dari tiga hal ini sesuai dengan apa yang mereka maknai.




1. Cinta (AI-Hubb)

Cinta yaitu Al-Widaad yakni kecenderungan hati pada yang dicintai, dan itu termasuk amalan hati, bukan amalan anggota badan/dhahir. Pernikahan itu tidak akan bahagia dan berfaedah kecuali jika ada cinta dan kasih sayang diantara suami-isteri. Dan kuncinya kecintaan adalah pandangan. Oleh karena itu, Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, menganjurkan pada orang yang meminang untuk melihat pada yang dipinang agar sampai pada kata sepakat dan cinta, seperti telah kami jelaskan dalam bab Kedua.

Sungguh telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Nasa’i dari Mughirah bin Su’bah Radhiyallahu ‘anhu berkata ;”Aku telah meminang seorang wanita”, lalu Rasulullah
shalallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadaku :’Apakah kamu telah melihatnya ?” Aku berkata :”Belum”, maka beliau bersabda : ‘Maka lihatlah dia, karena sesungguhnya hal itu pada akhimya akan lebih menambah kecocokan dan kasih sayang antara kalian berdua’

Sesungguhnya kami tahu bahwa kebanyakan dari orang-orang, lebih-lebih pemuda dan pemudi, mereka takut membicarakan masalah “cinta”, bahkan umumnya mereka mengira pembahasan cinta adalah perkara-perkara yang haram, karena itu mereka merasa menghadapi cinta itu dengan keyakinan dosa dan mereka mengira diri mereka bermaksiat, bahkan salah seorang diantara mereka memandang, bila hatinya condong pada seseorang berarti dia telah berbuat dosa.

Kenyataannya, bahwa di sini banyak sekali kerancuan-kerancuan dalam pemahaman mereka tentang “cinta” dan apa-apa yang tumbuh dari cinta itu, dari hubungan antara laki-laki dan perempuan. Dimana mereka beranggapan bahwa cinta itu suatu maksiat, karena sesungguhnya dia memahami cinta itu dari apa-apa yang dia lihat dari lelaki-lelaki rusak dan perempuan-perempuan rusak yang diantara mereka menegakkan hubungan yang tidak disyariatkan. Mereka saling duduk, bermalam, saling bercanda, saling menari, dan minum-minum, bahkan sampai mereka berzina di bawah semboyan cinta. Mereka mengira bahwa ‘cinta’ tidak ada lain kecuali yang demikian itu. Padahal sebenarnya tidak begitu, tetapi justru sebaliknya.

Sesungguhnya kecenderungan seorang lelaki pada wanita dan kecenderungan wanita pada lelaki itu merupakan syahwat dari syahwat¬-syahwat yang telah Allah hiaskan pada manusia dalam masalah cinta, Artinya Allah menjadikan di dalam syahwat apa-apa yang menyebabkan hati laki-laki itu cenderung pada wanita, sebagaimana firman Allah Ta’ala (yang artinya) :

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu : wanita-wanita, anak-anak,… “,
(Q.S Ali¬-Imran : 14)

Andaikan tidak ada rasa cinta lelaki pada wanita atau sebaliknya, maka tidak ada pernikahan, tidak ada keturunan dan tidak ada keluarga. Namun, Allah Ta’ala tidaklah menjadikan lelaki cinta pada wanita atau sebaliknya supaya menumbuhkan diantara keduanya hubungan yang diharamkan, tetapi untuk menegakkan hukum-hukum yang disyari’atkan dalam bersuami isteri, sebagaimana tercantum dalam hadits Ibnu Majah, dari Abdullah bin Abbas radiyallahu anhuma berkata : telah bersabda Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam :

“Tidak terlihat dua orang yang saling mencintai, seperti pemikahan .�?

Dan agar orang-orang Islam menjauhi jalan-jalan yang rusak atau keji, maka Allah telah menyuruh yang pertama kali agar menundukan pandangan, karena pandangan’ itu kuncinya hati, dan Allah telah haramkan semua sebab-sebab yang mengantarkan pada Fitnah, dan kekejian, seperti berduaan dengan orang yang bukan mahramya, bersenggolan, bersalaman, berciuman antara lelaki dan wanita, karena perkara ini dapat menyebabkan condongnya hati. Maka bila hati telah condong, dia akan sulit sekali menahan jiwa setelah itu, kecuali yang dirahmati Allah Subhanahu wa ta’ala.

Allah lah yang menghiasi bagi manusia untuk cinta pada syahwat ini, maka manusia mencintainya dengan cinta yang besar, dan sungguh telah tersebut dalam hadits bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Diberi rasa cinta padaku dari dunia kalian ; wanita dan wangi¬-wangian dan dijadikan penyejuk mataku dalam sholat�?
( HR Ahmad, Nasa’i, Hakim dan Baihaqi)

Bahwa Allah tidak akan menyiksa manusia dalam kecenderungan hatinya. Akan tetapi manusia akan disiksa dengan sebab jika kecenderungan itu diikuti dengan amalan-amalan yang diharamkan. Contohnya : apabila lelaki dan wanita saling pandang memandang atau berduaan atau duduk cerita panjang lebar, lalu cenderunglah hati keduanya dan satu sama lainnya saling mencinta, maka kecondongan ini tidak akan menyebabkan keduanya disiksanya, karena hal itu berkaitan dengan hati, sedang manusia tidak bisa untuk menguasai hatinya. Akan tetapi, keduanya diazab karena yang dia lakukan. Dan karena keduanya melakukan sebab yang menyampaikan pada ‘cinta’, seperti telah kami sebutkan. Dan keduanya akan dimintai tanggungjawab dan akan disiksa juga dari setiap keharaman yang dia perbuat setelah itu.

Adapun cinta yang murni yang dijaga kehormatannya, maka tidak ada dosa padanya, bahkan telah disebutkan oleh sebagian ulama seperti Imam Suyuthi, bahwa orang yang mencintai seseorang lalu menjaga kehormatan dirinya dan dia menyembunyikan cintanya maka dia diberi pahala, sebagaimana akan dijelaskan dalam ucapan kami dalam bab ‘Rindu’. Dan dalam keadaan yang mutlak, sesungguhnya yang paling selamat yaitu menjauhi semua sebab-sebab yang menjerumuskan hati dalam persekutuan cinta, dan mengantarkan pada bahaya-bahaya yang banyak, namun sangat sedikit mereka yang selamat.





2. Rindu (Al-’Isyq)

Rindu itu ialah cinta yang berlebihan, dan ada rindu yang disertai dengan menjaga diri dan ada juga yang diikuti dengan kerendahan. Maka rindu tersebut bukanlah hal yang tercela dan keji secara mutlak. Tetapi bisa jadi orang yang rindu itu, rindunya disertai dengan menjaga diri dan kesucian, dan kadang-kadang ada rindu itu disertai kerendahan dan kehinaan.

Sebagaimana telah disebutkan, dalam ucapan kami tentang cinta maka rindu juga seperti itu, termasuk amalan hati, yang orang tidak mampu menguasainya. Tapi manusia akan dihisab atas sebab-sebab yang diharamkan dan atas hasil-hasilnya yang haram. Adapun rindu yang disertai dengan menjaga diri padanya dan menyembunyikannya dari orang-orang, maka padanya pahala, bahkan Ath-Thohawi menukil dalam kitab Haasyi’ah Marakil Falah dari Imam Suyuthi yang mengatakan bahwa termasuk dari golongan syuhada di akhirat ialah orang-orang yang mati dalam kerinduan dengan tetap menjaga kehormatan diri dan disembunyikan dari orang-orang meskipun kerinduan itu timbul dari perkara yang haram sebagaimana pembahasan dalam masalah cinta.

Makna ucapan Suyuthi adalah orang-orang yang memendam kerinduan baik laki-laki maupun perempuan, dengan tetap menjaga kehormatan dan menyembunyikan kerinduannya sebab dia tidak mampu untuk mendapatkan apa yang dirindukannya dan bersabar atasnya sampai mati karena kerinduan tersebut maka dia mendapatkan pahala syahid di akhirat.

Hal ini tidak aneh jika fahami kesabaran orang ini dalam kerinduan bukan dalam kefajiran yang mengikuti syahwat dan dia bukan orang yang rendah yang melecehkan kehormatan manusia bahkan dia adalah seorang yang sabar, menjaga diri meskipun dalam hatinya ada kekuatan dan ada keterkaitan dengan yang dirindui, dia tahan kekerasan jiwanya, dia ikat anggota badannya sebab ini di bawah kekuasaannya. Adapun hatinya dia tidak bisa menguasai maka dia bersabar atasnya dengan sikap afaf (menjaga diri) dan menyembunyikan kerinduannya sehingga dengan itu dia mendapa pahala.





3. Cemburu (Al-Ghairah)

Cemburu ialah kebencian seseorang untuk disamai dengan orang lain dalam hak-haknya, dan itu merupakan salah satu akibat dari buah cinta. Maka tidak ada cemburu kecuali bagi orang yang mencintai. Dan cemburu itu ternasuk sifat yang baik dan bagian yang mulia, baik pada laki-laki atau wanita.

Ketika seorang wanita cemburu maka dia akan sangat marah ketik~asuaminya berniat kawin dan ini fitrah padanya. Sebab perempuan tidak akan menerima madunya karena kecemburuannya pada suami, dia senang bila diutamakan, sebab dia mencintai suaminya. Jika dia tidak mencintai suaminya, dia tidak akan peduli (lihat pada bab 1). Kita tekankan lagi disini bahwa seorang wanita akan menolak madunya, tetapi tidak boleh menolak hukum syar’i tentang bolehnya poligami. Penolakan wanita terhadap madunya karena gejolak kecemburuan, adapun penolakan dan pengingkaran terhadap hukum syar’i tidak akan terjadi kecuali karena kelalaian dan kesesatan.

Adapun wanita yang shalihah, dia akan menerima hukum-hukum syariat dengan tanpa ragu¬-ragu, dan dia yakin bahwa padanya ada semua kebaikan dan hikmah. Dia tetap memiliki kecemburuan terhadap suaminya serta ketidaksenangan terhadap madunya.
Kami katakan kepada wanita-wanita muslimah khususnya, bahwa ada bidadari yang jelita matanya yang Allah Ta’ala jadikan mereka untuk orang mukmin di sorga. Maka wanita muslimat tidak boleh mengingkari adanya ‘bidadari’ ini untuk orang mukmin atau mengingkari hai-hal tersebut, karena dorongan cemburu.

Maka kami katakan padanya :
1. Dia tidak tahu apakah dia akan berada bersama suaminya di surga kelak atau tidak.
2. Bahwa cemburu tidak ada di surga, seperti yang ada di dunia.
3. Bahwasanya Allah Subhanahu wa ta’ala telah mengkhususkan juga bagi wanita dengan kenikmatan-kenikmatan yang mereka ridlai, meski klta tidak mengetahui secara rinci.
4. Surqa merupakan tempat yang kenikmatannya belum pernah terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga dan terbetik dalam hati manusia, seperti firman Allah Ta’ala :
“Seorangpun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaltu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata scbagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan�?
(Q.S As-Sajdah : 17)

Oleh karena itu, tak seorang pun mengetahui apa yang tcrsembunyi bagi mereka dari bidadari-bidadari penyejuk mata sebagai balasan pada apa-apa yang mereka lakukan. Dan di sorga diperoleh kenikmatan-kenikmatan bagi mukmin dan mukminat dari apa-apa yang mereka inginkan, dan juga didapatkan hidangan-hidangan, dan akan menjadi saling ridho di antara keduanya sepenuhnya. Maka wajib bagi keduanya (suami-isteri) di dunia ini untuk beramal sholeh agar memperoleh kebahagiaan di sorga dengan penuh kenikmatan dan rahmat Allah Ta’ala yang sangat mulia lagi pemberi rahmat.

Adapun kecemburuan seorang laki-laki pada keluarganya dan kehormatannya, maka hal tersebut ‘dituntut dan wajib’ baginya karena termasuk kewajiban seorang laki-laki untuk cemburu pada kehormatannya dan kemuliaannya. Dan dengan adanya kecemburuan ini, akan menolak adanya kemungkaran di keluarganya. Adapun contoh kecemburuan dia pada isteri dan anak-anaknya, yaitu dengan cara tidak rela kalau meraka telanjang dan membuka tabir di depan laki-laki yang bukan mahramnya, bercanda bersama mereka, hingga seolah-olah laki-laki itu saudaranya atau anak-anaknya.

Anehnya bahwa kecemburuan seperti ini, di jaman kita sekarang dianggap ekstrim-fanatik, dan lain-lain. Akan tetapi akan hilang keheranan itu ketika kita sebutkan bahwa manusia di jaman kita sekarang ini telah hidup dengan adat barat yang jelek. Dan maklum bahwa masyarakat barat umumnya tidak mengenal makna aib, kehormatan dan tidak kenal kemuliaan, karena serba boleh (permisivisme), mengumbar hawa nafsu kebebasan saja. Maka orang¬orang yang mengagumi pada akhlaq-akhlaq barat ini tidak mau memperhatikan pada akhlaq Islam yang dibangun atas dasar penjagaan kehormatan, kemuliaan clan keutamaan.

Sesungguhnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam telah mensifati seorang laki-laki yang tidak cemburu pada keluarganya dengan sifat-¬sifat yang jelek, yaitu Dayyuuts: Sungguh ada dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ath-Thabraani dari Amar bin Yasir ; serta dari Al-Hakim, Ahmad dan Baihaqi dan Abdullah bin Amr , dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bahwa ada tiga golongan yang tidak akan masuk surga yaitu peminum khomr, pendurhaka orang tua dan dayyuts. Kemudian Nabi menjelaskan tentang dayyuts, yaitu orang yang membiarkan keluarganya dalam kekejian atau kerusakan, dan keharaman.

(Dikutip darikitab Ushulul Mu’asyarotil Zaujiyah, Penulis: Al-Qodhi Asy-Syaikh Muhammad Ahmad Kan’an, Edisi Indonesia “Tata Pergaulan Suami Istri Jilid I? Penerbit Maktabah Al-Jihad, Jog)

Disalin langsung dari situs www.darussalaf.or.id

~**~ kisah MAHAR termulia ~**~








Sejarah telah berbicara tentang berbagai kisah yang bisa kita jadikan pelajaran dalam menapaki kehidupan. Sejarah pun mencatat perjalanan hidup para wanita muslimah yang teguh dan setia di atas keislamannya. Mereka adalah wanita yang kisahnya terukir di hati orang-orang beriman yang keterikatan hati mereka kepada Islam lebih kuat daripada keterikatan hatinya terhadap kenikmatan dunia. Salah satu diantara mereka adalah Rumaisha’ Ummu Sulaim binti Malhan bin Khalid bin Zaid bin Haram bin Jundub bin Amir bin Ghanam bin Adi bin Najar Al-Anshariyah Al-Khazrajiyah. Beliau dikenal dengan nama Ummu Sulaim.

Siapakah Ummu Sulaim ..?

Ummu Sulaim adalah ibunda Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terkenal keilmuannya dalam masalah agama. Selain itu, Ummu Sulaim adalah salah seorang wanita muslimah yang dikabarkan masuk surga oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau termasuk golongan pertama yang masuk Islam dari kalangan Anshar yang telah teruji keimanannya dan konsistensinya di dalam Islam. Kemarahan suaminya yang masih kafir tidak menjadikannya gentar dalam mempertahankan aqidahnya. Keteguhannya di atas kebenaran menghasilkan kepergian suaminya dari sisinya. Namun, kesendiriannya mempertahankan keimanan bersama seorang putranya justru berbuah kesabaran sehingga keduanya menjadi bahan pembicaraan orang yang takjub dan bangga dengan ketabahannya.

Dan, apakah kalian tahu wahai saudariku..???

Kesabaran dan ketabahan Ummu Sulaim telah menyemikan perasaan cinta di hati Abu Thalhah yang saat itu masih kafir. Abu Thalhah memberanikan diri untuk melamar beliau dengan tawaran mahar yang tinggi. Namun, Ummu Sulaim menyatakan ketidaktertarikannya terhadap gemerlapnya pesona dunia yang ditawarkan kehadapannya. Di dalam sebuah riwayat yang sanadnya shahih dan memiliki banyak jalan, terdapat pernyataan beliau bahwa ketika itu beliau berkata, “Demi Allah, orang seperti anda tidak layak untuk ditolak, hanya saja engkau adalah orang kafir, sedangkan aku adalah seorang muslimah sehingga tidak halal untuk menikah denganmu. Jika kamu mau masuk Islam maka itulah mahar bagiku dan aku tidak meminta selain dari itu.” (HR. An-Nasa’i VI/114, Al Ishabah VIII/243 dan Al-Hilyah II/59 dan 60). Akhirnya menikahlah Ummu Sulaim dengan Abu Thalhah dengan mahar yang teramat mulia, yaitu Islam.

Kisah ini menjadi pelajaran bahwa mahar sebagai pemberian yang diberikan kepada istri berupa harta atau selainnya dengan sebab pernikahan tidak selalu identik dengan uang, emas, atau segala sesuatu yang bersifat keduniaan. Namun, mahar bisa berupa apapun yang bernilai dan diridhai istri selama bukan perkara yang dibenci oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sesuatu yang perlu kalian tahu wahai saudariku, berdasarkan hadits dari Anas yang diriwayatkan oleh Tsabit bahwa Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda, “Aku belum pernah mendengar seorang wanita pun yang lebih mulia maharnya dari Ummu Sulaim karena maharnya adalah Islam.” (Sunan Nasa’i VI/114).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melarang kita untuk bermahal-mahal dalam mahar, diantaranya dalam sabda beliau adalah: “Di antara kebaikan wanita ialah memudahkan maharnya dan memudahkan rahimnya.” (HR. Ahmad) dan “Pernikahan yang paling besar keberkahannya ialah yang paling mudah maharnya.” (HR. Abu Dawud)

Demikianlah saudariku muslimah…
Semoga kisah ini menjadi sesuatu yang berarti dalam kehidupan kita dan menjadi jalan untuk meluruskan pandangan kita yang mungkin keliru dalam memaknai mahar. Selain itu, semoga kisah ini menjadi salah satu motivator kita untuk lebih konsisten dengan keislaman kita. Wallahu Waliyyuttaufiq.

Penyusun: Ummu Ishaq

Maraji:
Panduan Lengkap Nikah dari “A” sampai “Z” (Abu Hafsh Usamah bin Kamal bin ‘Abdir Razzaq),
Wanita-wanita Teladan Di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (Mahmud Mahdi Al Istanbuli dan Musthafa Abu An Nashr Asy Syalabi)

Artikel www.muslimah.or.id