Kamis, 05 Agustus 2010

~* Suamiku Super Guuuanteng… *~






Bang Abie – sebut saja begitu- tersenyum... Sejenak ia memandang wajah istrinya. Agak heran, “Ada apa, ya, dengan istriku, kok pakai memuji segala..?” Begitulah salah satu reaksi suami ketika pertama kali menjumpai sang istri memuji dirinya. Hampir semua suami pasti senang mendengarnya,tak jarang malah melambung tinggi ke udara, apalagi yang memuji tersebut adalah orang yang paling dicintai. Memuji suami adalah sesuatu yang dianjurkan bagi para istri.Ini termasuk perkara yang terpuji dalam rangka menyenangkan hati suami. Bila ikhlas dilakukan demi sang suami tercinta, insya Alloohu Ta’ala berpahala.

Kaum Adam pun Sama

Urusan puji memuji bukan hanya spesial buat kaum wanita. Pria pun ingin dan butuh suatu pujian. Kalau para suami itu mau jujur, sebenarnya perasaan mereka tidak jauh beda dengan para istri, dalam hal keinginan untuk dipuji.

Pujian, bagi kita menandakan suatu penghargaan terhadap kelebihan atau usaha jerih payah kita. Sudah jadi kodratnya, manusia itu suka dihargai dan berharap sekali setiap orang menghargai terlebih istri tercinta.

Reaksi suami ketika dipuji pun tak beda jauh dengan para istri. Tersenyum, tertawa, malu-malu, atau yang lainnya sebagaimana umum terjadi pada wanita.

Yang boleh dan dilarang

Pada asalnya hukum memuji boleh-boleh saja. Kapan pun dan buat siapa pun. Namun, ada pengecualian dan itu termasuk pujian yang dilarang, yaitu jika pujian kita tersebut berlebihan, atau ada tujuan tertentu yang bertentangan dengan syariat agama, seperti menjilat atasan, dan lain sebagaimanya. Termasuk juga dalam larangan yaitu pujian yang membuat sombong, sum’ah dan ujub.

Larangan memuji demikian itu diisyaratkan oleh Rasulullaah shalallahu’alaihi wassallaam,

“Janganlah kalian mengagungkanku seperti yang diperbuat orang Nasrani terhadap Isa bin Maryam, karena sebenarnya aku tidak lebih dari hamba Allah. Sebut saja aku ini hamba Allah dan rasul-Nya (Riwayat Bukhari).

Dari hadits di atas dapat diambil pelajaran bahwa pujian itu harus sesuai dengan kenyataan, tidak boleh berlebih-lebihan (sampai keluar dari yang sebenarnya).

Saat tepat memuji suami

Agar manjur pujian Anda (para istri), hendaknya Anda tahu kapan saat yang tepat memuji sang suami. Karena saat yang tepat itulah akan tercapai tujuan, yaitu membuat suami ternyum, malu-malu, bahagia dan semakin cinta pada Anda.

Bagaimana caranya..? Tips berikut insyaAllah bisa Anda pratikkan:

Puji suami saat berhasil dalam tugasnya, caranya:

Seusai suami menceritakan keberhasilannya dalam tugas (apa pun), peluklah dirinya dan bisikkan kata-kata mesra, seperti I love you, Abang hebat dech, aku bangga dengan abang dan lain sebagainya
Cium suami sebagai tanda terima kasih atas pengorbanan dia demi membahagiakan keluarga
Buatkan masakan spesial sebagai hadiah buat dirinya. Katakan kalau ini hadiah istimewa dari Anda, insya Allah suami akan tambah sayang

Puji suami sehabis ia mandi, caranya:

Sehabis mandi, saat ia sedang berhias memperganteng diri pujilah ia, “Aduh, suamiku kok ganteng banget yach…!”. Yakinlah ia akan tersenyum atau malu-malu.
Cemburui dia saat tampil rapi, tunjukkan bahwa Anda takut kalau-kalau penampilannya tersebut membuat wanita lain meliriknya. Tunjukkan pula kalau Anda takut kehilangan dia.

uji suami saat bangun tidur, caranya:

Baik bangun tidur untuk shalat malam maupun bangun tidur biasa, pujilah dirinya. Sambil tersenyum katakan, “Bang…, matanya sipit tambah cakep, deh!” kemudian cium tangannya.
Tanyakan padanya minta dibuatkan masakan apa untuk sarapan atau makan siang. Ingatkan suami untuk segera mandi, sholat atau segera menyelesaikan pekerjaannya. Ini akan membuat suami merasa benar-benar diperhatikan.

Puji suami setelah membantu Anda, caranya:

Saat membantu, sediakan baginya minuman hangat atau sekedar camilan.
Cium tangannya, dan katakan, “Bang…, adalah suami yang hebat, sayang banget sama istri, ya…?”. Sebagai penghargaan kepadanya karena sudah membantu pekerjaan Anda.
Tawari untuk memijat dirinya jika ia kelelahan.
Katakan padanya kalau nanti dirinya mengerjakan sesuatu dan butuh bantuansuruh bilang saja, Anda akan siap membantunya.

Puji suami sehabis jima’, caranya:

Pandangi wajah suami, ucapkan terima kasih padanya karena telah memberi yang terbaik buat Anda.
Segera mengambil minuman untuk suami, dan kalau bisa diminum bersama sebagai tanda sayang dan untuk menambah kemesraan.

Demikianlah sekelumit contoh sederhana dalam membahagiakan suami Anda wahai para Istri…

Buat Anda, para Suami

Bila suami sering dipuji sang istri, itu artinya istri semakin sayang kepada Anda. Istri senang, bahagia dan bangga dengan apa yang Anda lakukan kepadanya dan berharap untuk senantiasa seperti itu, kalau bisa selamanya. Pujian istri juga bermakna bahwa Anda telah menyenangkan dirinya, membuatnya bahagia. Satu kisah dari Ibnu Abbas radhiallahu anhu seorang sahabat Nabi shalallahu’alaihi wassallaam, bisa menjadi pelajaran bagi Anda akan pentingnya menyenangkan hati istri, sebagaimana Anda juga berharap demikian. Ibnu Abbas radhiallahu anhu berkata,

“Aku berdandan diri untuk kepentingan istriku sebagaimana ia berdandan untuk kepentinganku. Aku tidak mau hanya menikmati hakku dari dirinya tetapi aku pun ingin ia memperoleh haknya dariku. Karena Allah subhannahu ta’ala telah menyatakan,

“…dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf..” (Al-baqarah: 228)

Dengan demikian, satu hal yang lumrah bila Anda harus berbuat yang terbaik buat sang istri tercinta. Namun perlu jadi catatan, apa pun pujian istri terhadap Anda tidak kemudian menjadikan Anda sombong atau ujub. Pula, jangan sampai setiap apa yang Anda lakukan buat istri bertujuan agar dipuji olehnya. Klau niatnya sudah begitu jelas hal tersebut keliru. Biarlah pujian itu keluar secara alamiah, bukan sesuatu yang menjadi niat Anda. Niat Anda tetap satu yaitu ingin menyenangkan hati istri, menyayangi dirinya, dan menjalankan perintah agama.karena yang demikian itu yang berpahala, selain itu berdosa. Wallaahu a’lam.

Oleh karena itu, kenapa harus berat atau malu untuk memuji sang kekasih hati? (Abu Zalfa)
__________________________
________________________________
Rujukan:
Bimbingan Islam untuk Pribadi dan Masyarakat oleh Syaikh Muhammad bin Zainu.
40 Tanggung Jawab Suami Terhadap Istri oleh Drs. M. Thalib
Ditulis kembali dengan sedikit revisi oleh Ummu Tsaqiif dari majalah Nikah vol.2 No.10 2004.

~* Dengan 5 Hal Ini, Kau Akan Berbahagia Bersamaku...*~






Suami Anda mungkin tidak pernah berkata-kata secara terbuka dan apa adanya kepada Anda. Setiap Anda bertanya kepadanya ia selalu menjawab dengan mendahulukan perasaannya. Akibatnya, Anda tidak bisa puas dengan jawabannya yang memang sangat sedikit.Bila ini terjadi pada suami Anda, maka Anda harus tahu bahwa memang tidak semua laki-laki bisa begitu saja terbuka, namun benar-benar ada tipe suami yang memang pendiam dan pemalu.

Berikut tips yang bisa digunakan oleh istri untuk mengambil hati suaminya yang pendiam dan pemalu yang menurut hasil penelitan telah terbukti banyak memberi faedah bagi istri untuk bisa hidup berbahagia bersama suaminya.

1. Jadilah Istri Yang Menghormati Suami

Bila istri menghormati suaminya, maka dengan mudahnya suami pun akan menghormatinya. Namun, bila istri tidak bisa menghormati suaminya maka selamanya ia akan menderita disisi suaminya. Mengapa? Apakah memang sikap saling menghormati merupakan kebutuhan asasi bagi suami yang tidak bisa ditawar-tawar lagi sehingga mereka mewajibkannya atas istri?

Banyak istri yang bila telah melahirkan anak suaminya beranggapan bahwa ia akan terus damai disisi suaminya. Ia menyangka akan senantiasa bahagia disisi suaminya hanya dengan telah lahirnya anak suaminya. Akibat dari sangkaan dan duga-duga ini akhirnya banyak istri yang lupa atau tidak lagi memandang perlu sikap hormat kepada suaminya. Ia banyak merendahkan suaminya dan menyepelekannya.

Ketahuilah, istri yang menghormati suaminya ialah istri-istri penduduk surga. Tidaklah Anda ingin meneladani mereka? Rasulullah shalallahu alaihi wassalam pernah bersabda:

“Maukah aku kabarkan kepada kalian para istri kalian di surga? Wanita yang penyayang, sangat subur, dan suka kembali berbuat baik yang apabila berbuat aniaya ia akan mengatakan, ‘ Ini tanganku ada diatas tanganmu, aku tidak bisa sekejap pun memejamkan mata sehingga engkau ridho kepadaku”1

Bukankah meminta maaf merupakan bentuk penghormatan yang tinggi? Bukankah mengulurkan tangan mengharapkan maaf suami merupakan sikap hormat istri kepadanya? Maka, bila Anda ingin menghormati suami, jadilah istri yang sabar atas kekhilafannya. Jadilah istri yang tidak pernah menentang suami saat ia marah. Jadilah istri yang menghargai dan menghormati cemburu suami. Jadilah istri yang bisa menjaga suami. Jadilah istri yang tidak enggan meminta maaf. Enggan meminta maaf suami adalah bukti kesombongan istri. Tunjukkan rasa hormat dan perhatian Anda kepada suami dihadapan orang lain, baik saat ia bersamamu maupun saat ia tidak hadir disisimu. Dengan begitu, Anda telah menghormatinya dan insya Allah Anda akan senantiasa bahagia disisinya. Perkataan yang mudah terucap dan mudah menghancurkan rumah tangga ialah, “ Aku tidak akan menghormatimu lagi”.

2. Jadilah Istri Yang Bertanggung Jawab

Banyak istri mengeluhkan perihal suaminya yang tidak bertanggung jawab. Sementara banyak pula suami yang menganggap istrinya tidak bertanggung jawab.

Dalam masalah ini, penting sekali kita menilik kisah Asma’, putri Abu Bakar ash Shidiq. Ia adalah istri yang ikut memikul tanggung jawab dirumah suaminya secara sempurna. Bahkan ia tetap menjaga dan menghormati perasaan serta kecemburuan suaminya.

Suaminya ialah Zubair, seorang sahabat yang fakir. Asma’ pun tahu bahwa suaminya sangat membutuhkan kesiapannya untuk ikut memikul tanggung jawab keluarga bersamanya. Ia biasa mengurusi makanan kuda Zubair, menjahit tempat airnya, menumbuk gandum, mengusung biji-bijian dari kebun dan lain-lainnya. Namun begitu, ia sangat menyadari bahwa keadaanya tidak boleh mengurangi rasa hormatnya kepada suaminya. Ia tetap menjaga perasaan suaminya dan kecemburuannya. Ia lebih memilih mengusung biji-bijian diatas pundaknya dengan berjalan kaki daripada naik untuk padahal ada kaum laki-laki bersamanya. Hal itu hanya demi menghargai kecemburuan suaminya. Sehingga dihadapan istri yang sangat menghargai dan bertanggung jawab inilah sosok seorang suami pun luluh hatinya sehingga ia berkata, “ Demi Allah, pengorbananmu untuk membawa biji-bijian itu jauh lebih berat bagiku daripada dudukmu diatas unta Rasulullah shalallahu aalaihi wassalam”.Memang , Asma’ lebih mendahulukan kecemburuan suaminya sehingga tidak menerima tawaran Rasulullah Shalallahualaihi wassalam untuk naik di unta beliau saat mengusung biji-bijian.

3. Jadilah Istri Yang Terbuka dan Menghargai Perasaan

Ketenteraman perasaan dipengaruhi oleh terungkapnya isi hati pasutri. Ungkapan isi hati tentang rasa cinta kasih istri terhadap suami merupakan factor utama untuk mewujudkan kebahagiaan rumah tangga. Para suami sangat membutuhkan hal itu, sebagaimana istripun membutuhkannya. Bahkan Rasulullah Shalallahu aalaihi wassalam membolehkan istri berdusta dalam pengungkapan rasa cinta dan kasihnya terhadap suaminya demi terwujudnya kehangatan hubungan berumah tangga dan demi terpeliharanya ikatan pernikahan.2 Lalu,mengapa pasutri tidak melakukannya? Mengapa para istri tidak mengutarakan isi hatinya kepada suaminya tentang sesuatu yang bisa membahagiakan kehidupan rumah tangganya?

4. Percayalah Kepada Suamimu

Rasa cemburu merupakan bukti yang sangat kuat akan besarnya cinta dan kasih istri kepada suaminya. Sehingga rasa cemburu terkadang dibutuhkan untuk mengungkapkan isi hati istri kepada suaminya bahwa ia mencintai dan mengasihinya. Bahkan, sifat pencemburu merupakan hal yang lazim bagi wanita. Namun cemburu ada dua, sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam:

“ Ada diantara sifat cemburu ada yang dicintai dan ada pula yang dibenci oleh Allah. Adapun cemburu yang dicintai Allah adalah cemburu dalam keragu-raguan, sedangkan cemburu yang dibenci oleh Allah ialah cemburu tidak dalam keragu-raguan”3

Cemburu tidak boleh menghilangkan kepercayaan istri kepada suaminya dengan memastikan bahwa suaminya telah salah dan menyeleweng, misalnya si istri mengatakan: “ Mengapa kamu telat pulang?” atau “ Darimana saja tadi kamu pergi?” atau “ Berapa banyak wanita yang bekerja ditempat kerjamu?” Semua perkataan ini dan yang senada ialah cemburu yang tidak baik sebab didasari penetapan bahwa suaminya telah salah dan menyeleweng, bukan dibangun diatas kepercayaan atau sekadar duga-duga dan rasa ragu yang akan hilang dengan penjelasan dari suami.

5. Jadilah Istri Yang Berakhlak Terpuji

Seorang suami yang shahih akan merasa bahagia dan terpenuhi kebutuhan asasinya bila beristrikan seorang wanita yang baik akhlaknya. Wanita yang buruk ialah wanita yang perkataannya selalu bermakna ancaman, ucapan dan suaranya kasar, tidak mau tahu kebaikan orang lain atasnya, dan suka mencari-cari keburukan orang lain. Selain itu, ia juga tidak mengasihi suami, sedikit rasa malunya, suka mencela, pemarah, rumahnya kotor, suka menunjuk dengan tangan dan jarinya, biasa berdusta, dan selalu meneteskan air mata buaya. Istri yang berakhlak terpuji tidak memiliki sifat-sifat tersebut. Bahkan, disaat ia sedang cemburu sekalipun, ia hanya akan menyebut kebaikan suami yang tidak bisa tidak harus membuatnya cemburu.Semoga dengan 5 hal in Anda, para istri , akan berbahagia bersama suami Anda. Wallahul Muwaffiq.

__________________________
____________________
Catatan kaki:
1. Hadits Hasan, lihat Shahihul Jami’ 2604 oleh Syaikh al-Albani [↩]
2. lihat dalam Shahih Muslim, Bab Dusta yang di Perbolehkan hadits no.1810 dan Bukhari no.2692 bunyi haditsnya adalah : “Saya tidak pernah mendengar Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam memberi kelonggaran berdusta kecuali dalam 3 hal: [1] Orang yang berbicara dengan maksud hendak mendamaikan, [2] orang yang berbicara bohong dalam peperangan dan [3] suami yang berbicara dengan istrinya serta istri yang berbicara dengan suaminya mengharapkan kebaikan dan keselamatan atau keharmonisan rumah tangga [↩]
3. Hadits Hasan, riwayat Abu Dawud 2661 dan Nasai 2570, lihat Shahihul Jami’ 2221 oleh Syaikh al-Albani [↩]

*diketik ulang oleh Humaira Ummu Abdillah dari majalah al-mawwaddah, Edisi I Tahun ke-3,Sya’ban oleh: Ustadz Abu Amar al-Ghoyami hal:29-30*

... Yaaang...:)






Sayang,..

Hampir empat tahun kebersamaan kita, aku banyak belajar darimu,
tentang melihat kehidupan, tentang melihat di balik yang terlihat, tentang hikmah dari sebuah peristiwa yang kita alami sepanjang perjalanan yang kita tempuh saat ini…

Aku pun mulai belajar tentang kemampuan membaca mengapa dan bagaimana ,
tak hanya berupaya menjawab apa. ..

Aku pun belajar untuk menjadi sutradara akan hidupku sendiri.
Bukan lagi menjadi pelaku dan penikmat perjalanan dengan kacamata kenaifan …

Dan selama itu pula aku baru faham bahwa ternyata persamaan kita telah saling menguatkan, dan perbedaan kita pun untuk saling melengkapi.
Terima kasih ya Robbi, Engkau satukan kami dengan curahan Cinta Kasih Mu…

Dan terima kasih Sayangku…, keteguhan, kesabaran dan perhatianmu telah menjadi cermin yang selalu memantulkan apa yang kuinginkan. ..


Kamu paling faham bahwa aku tidak butuh instruksi. Hanya kalimat tanya…, Karena katamu, sebenarnya aku sudah tahu apa yang kubutuhkan dan apa yang seharusnya kulakukan…

Kuakui, seringkali tindakanku kurang perencanaan dan pertimbangan matang sehingga sulit bagimu mempercayai keputusanku.

Tapi sayang.., bukankah masa depan adalah sekarang..? Memang, jalan hidupmu setelah bertemu denganku penuh dengan kerikil - kerikil tajam. Aku selalu membawamu pada kesulitan. ..
Alhamdulillah…

Toh selalu saja terbentang jalan kemudahan. Kenapa kau masih juga meresahkan masa depan ya…?
Kan ku kuatkan keyakinanku Sayang…

Aku ingat sebuah kata bijak bahwa “Behind every successful man is a surprised woman”, aku ingin seperti itu yang…

Ku harap engkau slalu ada waktu tuk mengajariku…
Dan aku akan terus belajar tentang kebijaksanaan darimu…

Makasih “yang” yach…

Dari orang yang saaaangat mencintaimu,

_Aysha_

___Aku, Wanita Paaaaling Bahagia___






Aku adalah seorang wanita. Walau dalam sebagian bisikan benakku rasakan kecewa, namun keseluruhan jiwaku tetap mantap tersenyum. Aku sadar, kekecewaan itu hanyalah setan berbisik. Betapa setan akan selalu berusaha menyesatkanku, selama hayatku. Aku pun teringat masa-masa itu, jauh di masa dahulu, dimana seorang wanita tiada punya martabat. Dimana seorang ayah tega membunuh darah dagingnya, karena ia terlahir sebagai wanita. Betapa mereka murung durjana, saat kabar terdengar terlahir wanita.

“Dan apabila seorang diantara mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, wajah mereka pun menghitam dan ia sangatlah marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan padanya. Apakah ia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburnya hidup-hidup ke dalam tanah? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.” (An-Nahl:58-59)

Dan seketika kegerahanku saat bersyariat pun sirna dengan guyuran iman di jiwa. Dan aku pun semakin mengerti, betapa semua di dunia ini hanyalah ujian. Kami wanita, diuji dengan kekalahan fisik, akal dan keterbatasan. Apakah kemudian kami bertambah iman ataukah semakin kufur? Siapa pun, wanita atau lelaki memiliki kadar ujian masing-masing, walau tampak seakan wanita selalu di pihak yang kalah dan lemah.

“Dan janganlah kalian iri hati terhadap apa yang telah dikaruniakan Allah (berupa kelebihan) kepada sebagian kalian atas sebagian yang lain. Bagi lelaki ada bagian tertentu atas apa yang mereka usahakan. Dan bagi para wanita, ada bagian atas apa yang mereka usahakan. Dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunianya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (An-Nisa:32)

Amboi, apabila para wanita tahu, Islam datang dengan begitu memuliakan kaum wanita. Islam peka dan sadar dengan fitrah seorang wanita, hingga menempatkannya pada tempat yang sangat tepat. Bila kesempitan dan keterbatasan selalu terbayang, itu hanyalah dalam benak para wanita yang kering dan gersang akan tetesan iman. Betapa sebenarnyalah, Islam memberikan kesempatan yang sama, nilai yang sama dalam mereguk tetes kebahagiaan, walau kadang dalam rupa, cara dan bentuk yang berlainan. Allah telah berfirman,

“Dan barangsiapa yang mengerjakan amal salih, baik laki-laki atau wanita sedangkan ia orang yang beriman, maka akan masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya sedikitpun.” (An-Nisa:124)

“Barangsiapa yang mengerjakan amal salih, baik laki-laki atau wanita dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik. Dan akan kami beri balasan kepada mereka pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An-Nahl:97)



Arti Sebuah Kebahagiaan

Apakah arti kebahagian bagiku? Dan apa pula menurut benakmu? Kepuasan atas ambisi dan berbagai keinginan serta kesenangankah? Atau ada rumus dan perhitungan tertentu? Sekali-kali bukan itu, karena kami wanita beriman yang mendengar sabda Sang Nabi r, dari Abu Hurairah yang artinya,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ

“Dunia itu adalah penjara bagi orang beriman, dan surga bagi orang kafir.” (H.R. Muslim)

Dengan demikian kami memandang segala sesuatu bukan dengan dunia, melainkan mata akhirat. Walau bukan berarti kami tak ingin bahagia di dunia. Dan kebahagiaan bagi hamba yang beriman itu berbeda ucapan dalam berpuluh anak sungai yang bermuara satu.

Bagi seorang Abdullah Ar-Rumi, “Kebahagiaan itu terletak pada pengenalan terhadap hakikat ibadah.”

Sementara Ibnu Taimiyah menjelaskan, bahwa kebahagiaan itu tidak lain adalah tingkat pengenalan sesorang terhadap nilai dan hakikat ibadah. Orang yang berbahagia adalah orang yang paling menghamba, alias paling tekun menjalani kehidupannya sebagai hamba Allah. Seberapa besar tingkat pengenalannya terhadap ibadah –yang diperolehnya melalui proses belajar dan praktik secara tepat, cermat dan ikhlas- sebesar itulah tingkat kebahagiaannya.

Namun kebahagian pun bisa bertolak dari sesuatu yang praktis, sebagaimana sabda Sang Nabi Shalallahualaihi wassalam,

أَرْبَعٌ مِنَ السَّعَادَةِ : الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ وَالْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ وَالْجَارُ الصَّالِحُ وَالمَرْكَبُ الْهَنِيْءُ وَأَرْبَعٌ مِِنَ الشَّقَاوَةِ: الْجَارُ السُّوْءُ وَالْمَرْأَةُ السُّوْءُ وَالْمَسْكَنُ الضَّيِّقُ وَالْمَرْكَبُ السُّوْءُ

“Ada empat kunci kebahagiaan: istri yang salihah, rumah yang baik (luas meskipun sederhana), tetangga yang baik dan kendaraan yang nyaman. Dan ada empat hal yang bisa membawa kesengsaraan: tetangga yang jahat, istri yang tidak salihah, rumah yang sempit dan kendaraan yang menyusahkan.” (H.R. Ibnu Hiban)

Istri yang salihah, benar, ia dipastikan merupakan sebuah kebahagiaan bagi dirinya maupun orang-orang di sekitarnya. Betapa Sang Nabi r pun pernah bersabda yang artinya,



الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ

“Dunia adalah kenikmatan, dan sebaik-baik kenikmatan dunia adalah wanita yang salihah.” (H.R. Muslim)

Baiklah, lalu dimanakah harta perhiasan, sawah ladang, emas permata yang membuat kami bahagia? Memang demikianlah naluri kemanusiaan, dimana kebahagiaannya terbungkus dalam sebahagian syahwat (keinginannya). Dalam batas yang tipis ketika syahwat itu menentukan kebahagiaan seseorang, apakah kemudian dalam ridha-Nya atau dalam kemarahan-Nya.

“Dijadikan indah, pada (pandangan) manusia kecintaan kepada keinginannya (syahwat), yaitu: para wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas dan perak, kuda pilihan, binatang ternak dan swah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan si sisi Allahlah tempat kembali yang baik.” (Ali ‘Imran:14)



Langkah Menuju Bahagia

Mustahil kesuksesan dan kebahagian teraih cuma-cuma. Kisah-kisah para nabi penuh perjuangan dan penderitaan, demi kebahagiaan yang hakiki. Bukan sekedar kebahagiaan duniawi. Adalah Dr. Abdul Muhsin bin Muhammad Al-Qasim, Imam dan Khatib masjid Nabawi telah menulis sebuah buku kecil yang berjudul “Langkah-langkah Menuju Kebahagiaan”. Diantara beberapa hal yang seharusnya ditempuh oleh seorang hamba, yang mendambakan kebahagiaan, di dunia dan di akhirat.

-Ikhlas dalam beramal
-Selalu Bertawakal
-Mencari Rezeki
-Baik Sangka Kepada Allah
-Berbuat Baik Kepada Orang Tua
-Menyambung Persaudaraan
-Menjaga Waktu
-Menuntut Ilmu
-Berdakwah Kepada Allah
-Bersabar Atas Segala Musibah
-Berdoa
-Bersedekah
-Banyak Beribadah Sunah
-Berakhlak Karimah
-Memenuhi Kebutuhan Orang Yang Membutuhkan
-Bersyukur
-Banyak Memohon Ampun
-Banyak Membaca dan Menghafal Qur’an



Menjadi Wanita Paling Bahagia

Bahagia karena berhijab. Sesungguhnya dalam gerahku saat berhijab ada perlindungan. Betapa aku akan terjaga, karena tubuhku bak mutiara. Semakin mahal mutiara, adalah yang tak pernah tersentuh dan terbayang dalam keruh kotornya benak. Dan kuingin menjadi mutiara yang paling mahal. Walau aku harus sendiri dengan ketentramanku, di dasar samudra luas. Dan aku ingin tersucikan, dari godaan dan fitnah yang merupakan aromaku. Maha Suci Allah dengan firman-Nya,

“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang yang beriman, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Karena yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang”. (Al-Ahzab:53)

عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنْ النِّسَاءِ

“Tidaklah aku tinggalkan setelahku fitnah yang lebih aku takuti, melainkan fitnah yang diterima lelaki karena wanita.” (H.R. Bukhari)

Bahagia karena harus di rumah. Sebagian kaumku berkata,”Begitu nikmat bebas kupergi, kemana kusuka tiada terlarang.” Amboi, jika mereka tahu. Betapa mereka tatkala mereka berdandan dan kemudian keluar rumah, semakin kusam dan pudar kecantikannya. Aus, dan kemudian usang bagaikan barang bekas yang dicampakkan. Karena kecantikan lahir dan batin itu akan luntur, sebanding dengan semakin seringnya seorang wanita keluar rumah, dan semakin biasanya wajahnya dipandang para lelaki.

“…dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang jahiliyah yang dulu. Dan dirikanlah salat, tunaikan zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya…” (Al-Ahzab-33-34)

Bahagia bersuamikan suami yang salih. Wanita yang salihat, di lingkungan yang salih, niscaya ia akan berbahagia dengan izin Allah, karena akan mendapatkan suami yang salih pula.Bukankah aku dan orang tuaku tiada boleh menolak lelaki salih yang datang meminangku? Sang Nabi r telah bersabda yang artinya,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَطَبَ إِلَيْكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَزَوِّجُوهُ إِلَّا تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيضٌ



“Jika ada seorang lelaki yang kalian ridhai agama dan akhlaknya datang meminang putrimu, maka nikahkanlah. Jika tidak, niscaya akan terjadi kerusakan yang meluas di bumi ini.” (H.R. Tirmidzi)

Dan Allah telah pula melindungiku bila memang aku berusaha salihat, sebagaiman firman-Nya,

Bahagia karena tidak pergaulan yang baik. Betapa Islam telah melindungiku, dari tindakan semena-mena, bila memang suamiku kurang bertanggung jawab. Rasulullah telah bersabda yang artinya,

“Janganlah salah seorang diantara kalian memukuli istrinya seperti layaknya budak, namun ia menggaulinya di akhir malam.” (H.R. Bukhari)

Bahagia dengan harta kepemilikan. Dan tiada seorang pun yang boleh merampasnya dariku, tanpa kerelaan dan ketulusanku.

“Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kalian sebagian dari mas kawin itu dengan senang hati, maka makanlah pemberian itu sebagai makanan yang sedap dan baik akibatnya.” (An-Nisa:4)

Bahagia karena dibanggakan. Karena aku adalah seorang guru, guru bagi anak-anakku. Sebagaimana untaian syair, seorang ibu laksana madrasah. Seorang ibu laksana taman yang indah.

Bahagia karena suamiku bahagia. Adalah sebuah nilai tersendiri, dimana kebahagiaan suamiku adalah pintu surgaku.

Tetap bahagia dibalik derita. Saat kelemahan dan godaan penderitaan menggelayut rasa, maka jiwaku pun tetap tersenyum. Ketika angin dan badai menerpa, cahaya imanku tetap bersinar. Dan bila badai itu memang kuanggap ada, kuyakin ia pasti berlalu.

Bahagia dengan bertaubat. Bukankah setiap manusia pasti berbuat salah? Sungguh, air mataku pasti tiada kan cukup, bila Allah tak mengampuni hamba-Nya yang berbuat dosa. Dan pintu taubat masih selalu terbuka, selama hayat dikandung badan. Walau aku kan tetap menangis, khawatir dosaku tiada terampun.

(Disampaikan dalam Daurauh LPI2 Januari 2006/Ai Harkan)

http://gugundesign.wordpress.com/

::: Ketika Harus Memilih :::



Bismillah…

Hidup ibarat roda yang berputar. Kadang kita menemui jalan bak aspal yang mulus, kadang pula harus melewati jalan setapak penuh kerikil tajam. Kadang kita berada di atas, tak jarang pula berada di bawah. Kadang beruntung mendapat jalan yang lapang seperti jalan tol, namun sering pula bertemu jalan yang sempit, penuh persimpangan dan tanpa penunjuk arah (mmm…yang ini gak ada hubungannya sama roda yak...? he..he..)

Berada di jalan yang mulus beraspal hendaknya membuat kita bersyukur namun tetap waspada agar tidak celaka. Jalan yang penuh kerikil tajam melatih kita untuk lebih berhati hati agar tidak terluka. Berada di atas hendaknya membuat kita bersyukur dan tetap mengambil pelajaran dari yang di bawah. Dan berada di bawah hendaknya membuat kita senantiasa bersabar dan berjuang keras untuk dapat sampai ke atas. Jalan yang lapang hendaknya membuat kita menghargai kemudahan yang didapatkan dan jangan terlena. Jalan yang sempit, penuh persimpangan dan tanpa penunjuk arahlah yang akan memberikan kita pelajaran tentang kesabaran, keberanian serta kedewasaan.

Tak jarang Allah memberikan kita cobaan berupa jalan yang penuh persimpangan itu dan kita harus menentukan pilihan. Bukan hal yang mudah untuk memilih. Bahkan jika kita merasa hanya ada satu pilihan pun kadang terasa sulit memilihnya. Hmmm…

Sebuah nasihat bijak seorang hamba Pilihan:
Dari Wabishah bin Ma'bad radiyallahu anhu, ia berkata: "Aku telah datang kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, lalu beliau bersabda: "Apakah engkau datang untuk bertanya tentang kebajikan?" Aku menjawab:"Benar"

Beliau bersabda:"Mintalah fatwa kepada hatimu. Kebajikan itu adalah apa-apa yang menentramkan jiwa dan menenangkan hati dan dosa itu adalah apa-apa yang meragukan jiwa dan meresahkan hati, walaupun orang-orang memberi fatwa kepadamu dan mereka membenarkannya."

(HR Ahmad dan Darimi, hadits hasan, tercantum dalam hadits Arbain Annawi hadits nomer 27).
Kadang kita tidak menyadari bahwa hati kecil kita adalah ujung tombak dari segala keputusan yang kita ambil. Ketika hati itu lemah, maka keraguan akan mudah menyelimuti. Namun jika hati kita kuat, segala sesuatunya pasti dapat kita kembalikan kepada Allah, dan senantiasa berbaik sangka terhadap apapun yang terjadi pada kita. Karena Allah akan memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan.

Kembali ke masalah pilihan. Ketika kita dihadapkan pada sebuah pilihan yang menurut kita sulit, lihatlah dengan hati nurani kita. Sholat istikharoh salah satu medianya. Tak jarang Allah menunjukkan bahwa pilihan itu baik, dengan menyembunyikan keburukannya. Dan tak jarang pula keburukan pilihan itu ditunjukkan kepada kita, dengan jelas ataupun tersirat. Satu hal yang selalu kujadikan pegangan untuk berprasangka baik kepada Allah terhadap pilihan-pilihan sulit yang kuhadapi adalah bahwa jika sebuah pilihan meninggalkan kita, berarti itu memang bukan yang terbaik untuk kita dan Allah pasti telah menyediakan yang lebih baik daripadanya. Dengan begitu maka tidak akan pernah ada penyesalan jika kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan, karena Allah tahu pasti apa yang kita butuhkan dan Insya Allah akan kita dapatkan dari arah yang kadang tidak disangka-sangka.

Teruntuk seorang sahabatku, yang aku mencintai, menyayangi dan merindukannya karena Allah – di Bandung, Semoga Allah slalu menjagamu…

by ~ Aysha

~* Pintu mana saja Untukmu...*~



S
urga adalah idaman dan harapan setiap orang beriman, laki-laki dan perempuan, ia adalah akhir perjalanan bagi semua orang yang taat dan patuh kepada Allah dengan menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya, bagi seorang muslimah perkara ini penting karena Rasulullah saw telah menyatakan bahwa kebanyakan penghuni neraka adalah wanita, dari sini mengetahui kunci surga oleh seorang muslimah merupakan perkara penting, dengan meraih kunci ini berarti dia tidak termasuk ke dalam golongan para wanita penghuni neraka.

Rasulullah saw telah merangkum kunci surga muslimah dalam empat perkara;

- Menjaga shalat lima waktu.
- Berpuasa di bulannya.
- Menjaga kehormatannya.
- Menaati suaminya.

إِذَا صَلَّتِ المَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَصَنَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ بَعْلَهَا دَخَلَتْ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الجَنَّةِ شَاءَتْ .

“Jika seorang wanita menjaga shalat lima waktu, berpuasa pada bulannya, menjaga kehormatannya dan menaati suaminya, niscaya dia masuk surga dari pintu mana saja yang dia inginkan.”(HR. Ahmad nomor 1661, hadits hasan lighairihi).

Satu hal yang terpetik dari sabda Nabi saw di atas adalah bahwa beliau hanya menyebutkan perkara-perkara yang masuk ke dalam jangkauan seorang muslimah, di mana seorang muslimah mampu melaksanakannya tanpa bergantung kepada orang lain atau bergantung kepada suaminya, di sini Rasulullah saw tidak menyinggung, misalnya, haji, karena pelaksanaan ibadah ini oleh seorang muslimah bergantung kepada suatu perkara yang mungkin tidak dimilikinya, seperti tersedianya bekal haji atau tersedianya mahram, di sini Rasulullah saw juga tidak menyinggung zakat, karena perkaranya kembali kepada kepemilikan harta dan pada umumnya ia berada di tangan kaum laki-laki, karena harta adalah hasil bekerja dan yang bekerja pada dasarnya adalah kaum laki-laki.

Kunci pertama, menjaga shalat lima waktu

Shalat adalah ibadah teragung, hadir setelah ikrar dua kalimat syahadat, satu-satunya ibadah yang tidak menerima alasan ‘tidak mampu’, wajib dikerjakan dalam keadaan apa pun selama hayat masih dikandung badan dan akal masih bekerja dengan baik, pembatas antara seseorang dengan kekufuran dan kesyirikan, tidak heran jika suatu ibadah dengan kedudukan seperti ini merupakan salah satu kunci surga.

Jika menjaga shalat adalah kunci surga, maka sebaliknya menyia-nyiakannya adalah gerbang neraka, ketika para pendosa dicampakkan ke dalam neraka, mereka ditanya, apa yang membuat kalian tersungkur ke dalam neraka? Mereka menyebutkan rentetan dosa-dosa yang diawali dengan meninggalkan shalat.

Firman Allah, “Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?’ Mereka menjawab, ‘Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat.”(Al-Muddatstsir: 42-43).

Perkara menyia-nyiakan shalat tidak jarang terjadi pada kaum muslimin secara umum dan kaum muslimat secara khusus, banyak alasan dan hal yang membuat mereka terjerumus ke dalam perbuatan tidak terpuji ini, di antara mereka ada yang menyia-nyiakan shalat karena malas dan meremehkan, di antara mereka ada yang terlalaikan oleh kesibukan hidup, sibuk bekerja, sibuk memasak, sibuk mengurusi rumah tangga, sibuk mengurusi anak-anak dan suami, sibuk dengan kegiatan-kegiatan lainnya sehingga ibadah shalat terbengkalai, padahal ibadah shalat tidak menerima alasan apa pun yang membuatnya tersia-siakan, dan Allah telah memperingatkan kaum muslimin agar tidak terlalaikan oleh dunia dari mengingatNya, termasuk mengingatNya melalui ibadah shalat.

Firman Allah, “Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (Al-Munafiqun: 9).

Menjaga shalat lima waktu mencakup menjaga waktunya dalam arti melaksanakannya tepat waktu, tidak menundanya dan mengulur-ulur waktunya sampai waktunya hampir habis, atau bahkan membiarkannya habis, ini adalah shalat orang-orang munafik, dan seorang muslimah tidak patut bermental munafik dalam ibadah shalat.

Menjaga shalat mencakup menjaga syarat-syarat dan rukun-rukunnya di mana shalat tidak sah tanpanya, menjaga wajib-wajib dan sunnah-sunnahnya yang merupakan penyempurna bagi ibadah shalat, semua ini menuntut seorang muslimah untuk belajar dan membekali diri dengan ilmu yang shahih tentang shalat. Tanpa ilmu yang shahih tidak akan terwujud menjaga shalat.

kedua, berpuasa di bulannya [Ramadhan]

Puasa di bulan Ramadhan adalah salah satu kunci surga, lebih dari itu di surga tersedia sebuah pintu khusus bagi orang-orang yang berpuasa yang dikenal dengan ‘ar-Rayyan’, pintu masuk para shaimin secara khusus, jika mereka telah masuk maka ia akan ditutup.

Di samping berpuasa sebagai kunci surga, ia juga merupakan tameng dan pelindung dari neraka, Rasulullah saw menyatakan, ash-shaumu junnah, puasa adalah tameng atau pelindung, yakni dari api neraka.

Karena puasa merupakan salah satu kunci surga sekaligus pelindung dari neraka maka seorang muslimah harus menjaganya, dalam arti melaksanakannya dengan baik, memperhatikan syarat, rukun dan pembatalnya, karena tanpanya dia tidak mungkin berpuasa dengan baik.

Seorang muslimah juga harus memperhatikan perkara qadha puasa Ramadhan di hari-hari lain jika dia mendapatkan halangan pada bulan Ramadhan sehingga tidak mungkin berpuasa secara penuh, jangan sampai Ramadhan berikut hadir sementara dia belum melunasi hutang puasanya, perkara mengqadha puasa di hari lain ini sering terlupakan atau terabaikan, karena kesibukan hidup, padahal ia adalah hutang yang jika tidak dilaksanakan maka seorang muslimah tidak bisa dikatakan telah berpuasa di bulannya, selanjutnya dia gagal meraih kunci kedua dari kunci-kunci masuk surga, dari sini bersikap hati-hati dengan menyegerakan qadha adalah sikap bijak, karena penundaan terkadang malah merepotkan dan menyulitkan.
(Izzudin Karimi)

Ketika Rasulullah saw mengabarkan bahwa wanita merupakan penghuni neraka paling besar, beliau ditanya, mengapa? Beliau menjelaskan sebabnya, karena wanita sering ‘kufur’ kepada keluarga, sering mengeluh, jika suami berbaik-baik kepadanya seumur-umur, lalu dia melihat yang tidak baik dari suami walaupun hanya sekali, maka dia akan berkata, ‘Aku tidak melihat kebaikan apa pun pada dirimu.’ Oleh karenanya Rasulullah saw mengajak para wanita agar memperbanyak bersedekah sebagai penyeimbang, lebih dari itu Rasulullah saw juga memberikan jalan dan pintu tersendiri bagi wanita agar selamat dari neraka dengan meraih kunci surga.

Kunci ketiga, menjaga kehormatan

Surga hanya bisa diraih dengan keshalihan, hanya wanita shalihah yang akan masuk surga, shalihnya seorang wanita dibuktikan dengan beberapa sifat dan akhlak, salah satunya dan yang terpenting adalah menjaga kehormatan diri.

Firman Allah, “Wanita yang shalih ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada karena Allah telah memelihara (mereka).” (An-Nisa`: 34).

Ayat ini menetapkan bahwa memelihara diri meruapakan wujud dari ketaatan seorang wanita shalihah kepada Allah kemudian kepada suaminya.

Nabi saw bersabda,

خَيْرُالنِّسَاءِ مَنْ إِذَا نَظَرْتَ إِلَيْهَا سَرَّتْكَ وَإِذَا أَمَرَتْهَا أَطَاعَتْكَ وَإِذَا أَقْسَمْتَ عَلَيْهَا أَبَرَّتْكَ وَإِذَا غِبْتَ عَنْهَا حَفِظَتْكَ فِي نَفْسِهَا وَمَالِكَ.


“Sebaik-baik wanita adalah wanita yang jika kamu melihat kepadanya maka kamu berbahagia, jika kamu memerintahkannya maka dia mentaatimu, jika kamu bersumpah atasnya maka dia memenuhinya dan jika kamu meninggalkannya maka dia menjagamu pada diri dan hartamu.” (HR. an-Nasa`i)

Menjaga kehormatan berarti membentengi diri dari perkara-perkara yang mencoreng dan merusak kehormatan, yang menodai dan menggugurkan kemuliaan, dengan tetap bersikap dan bertingkah laku dalam koridor tatanan syariat yang suci lagi luhur.

Menjaga kehormatan di zaman di mana ajakan dan propaganda kepada kerusakan dan perbuatan keji semakin meningkat dan menguat, seruan dan arus serangan yang ditujukan kepada wanita-wanita muslimah dengan agenda dan maksud terselubung dan tersembunyi semakin gencar dan bergelombang, menjaga kehormatan di zaman seperti ini terasa demikian sulit dan berat, para penyeru dan para jurkam kerusakan membidik wanita muslimah sebagai sasaran, mereka memakai dan menggunakan cara-cara yang melenakan dan menggiurkan dengan nama kemajuan, modernisasi, pemberdayaan, pengentasan, pembebasan dan kedok-kedok palsu lainnya, zhahiruhu fihi ar-rahmah, wa bathinuhu ya`ti min qibalihi al-adzab, racun di balik kelembutan ular berbisa.

Dari sini maka seorang wanita muslimah harus jeli dan cermat sehingga dia tidak termakan oleh rayuan gombal para serigala yang berbulu domba dan musang berbulu ayam, hendaknya seorang muslimah tetap berpegang kepada aturan-aturan dan rambu-rambu Islam yang luhur lagi suci karena di sanalah terkandung kebersihan dan kesucian diri, hendaknya seorang muslimah menimbang dan mengukur setiap seruan dan ajakan dengan timbangan dan ukuran syar’i yang baku dan menyeluruh, hal ini agar dia selamat dan tidak terjerumus ke dalam perkara-perkara yang merusak kemuliaan dan kehormatannya.

keempat, menaati suami

Menaati suami merupakan lahan dan medan besar dan luas bagi seorang muslimah, ia merupakan ladang ibadah bagi seorang muslimah yang sesungguhnya setelah penghambaannya kepada Rabbnya.

by ~ Aysha

~~ Karena engkau adalah Anugerah [mutiara] TERindah ~~







Wahai saudariku, Allah telah memuliakanmu dan mengangkat tinggi kedudukanmu, Ia menginginkan dirimu terpelihara dan terjaga dari tangan-tangan jahat yang ingin menjerumuskanmu ke lembah kehinaan dan memanfaatkan kelemahanmu, oleh karena itu, Ia menetapkan hukum dan peraturan yang dapat menjamin jatidirimu sebagai seorang wanita, karena engkau bukanlah laki-laki dan laki-laki juga bukanlah dirimu, Allah SWT berfirman:

"� dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan�"(QS. 3:36)

Allah memang menghendaki menciptakan ciptaan-Nya terdiri dari jenis laki-laki dan wanita, Ia berfirman:

"Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah". (QS. 51:49)

Keduanya diciptakan Allah dengan sifat dan karakter yang berbeda untuk saling melengkapi satu sama lain bukan saling berhadapan dan bersaing dalam kehidupan, wilayah peranmu berbeda dengan saudara kandungmu itu, semua itu Allah lakukan semata-mata demi menjadikanmu manusia yang terhormat, berwibawa dan mulia.

Wahai saudariku, aku ingin mengajakmu merenungkan beberapa hukum yang Ia syariatkan untukmu demi memelihara kemulian jatidirimu sebagai wanita.





Pertama, Allah menghalalkan kepadamu memperhias diri dengan perhiasan dari emas dan sutra murni yang Ia haramkan bagi kaum laki-laki, Rasulullah ` bersabda: "Kedua perhiasan ini (emas dan sutra murni) diharamkan bagi laki-laki dan dihalalkan bagi wanita" (HR. Ibnu Majah dari Ali bin Abi Thalib a.). Ia halalkan semua ini untukmu demi menjaga kecantikanmu dan sifatmu yang lembut.






Kedua, Sebaliknya, Allah mengharamkan segala sesuatu yang dapat menghilangkan sifat kewanitaanmu yang halus dan lembut itu baik dalam berpakaian, bertingkah dan perilaku yang menyerupai laki-laki, demikian juga laki-laki diharamkan menyerupai wanita dalam pakaian, gerak dan tingkah laku, karena hal itu tidak sesuai dengan jiwa dan tabiatnya. Rasulullah` bersabda: "Allah melaknati laki-laki memakai pakaian wanita dan wanita memakai pakaian laki-laki" (HR. Abu Daud dari Abu Hurairah ra.)






Ketiga, Allah melindungi kelemahanmu dan menempatkanmu selalu dalam naungan laki-laki, Ia tidak menuntutmu mencari penghidupan untuk memenuhi kebutuhanmu atau kebutuhan orang lain, tetapi kaum laki-lakilah yang Ia wajibkan memenuhi semua kebutuhan hidupmu, karena Ia tak ingin engkau bergulat dalam kehidupan demi sesuap nasi agar engkau tak terhina. Jika engkau seorang gadis, ayahmu dan saudara laki-lakimulah yang memenuhi kebutuhanmu, jika engkau seorang ibu, anakmu yang laki-laki yang dituntut menjamin kebutuhan hidupmu dan jika engkau seorang istri, suamimu yang harus bertanggung jawab atas semua kebutuhanmu, lalu jika tak ada seorangpun diantara mereka yang menjamin kebutuhan hidupmu maka Allah mewajibkan kepada pemerintah memenuhi semua hajat hidupmu yang asasi.






Keempat, Allah memerintahkan kepadamu menjaga pandanganmu terhadap lawan jenismu agar syetan tidak menjerumuskanmu kedalam kubangan yang hina. Allah lberfirman:

"Katakanlah kepada wanita yang beriman:"Hendaklah mereka menahan pandangan mereka�" (QS. 24:31)




Kelima, Allah memerintahkan kepadamu menjaga tubuhmu dari pelecehan tangan-tangan jahil dan penghinaan mata-mata yang usil dengan membalutnya dengan pakain mulia keculai muka dan telapak tanganmu. Allah berfirman: "�dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka.

Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedada mereka�"(QS. 24:31)






Keenam, Allah memerintahkan kepadamu tidak menampakan perhiasanmu yang tersembunyi seperti rambut, leher, betis dan lengan tanganmu kecuali kepada suamimu, dan orang-orang yang termasuk mahram bagimu. Allahl berfirman yang artinya: "�dan janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita..." (QS. 24:31)





Ketujuh, Allah memerintahakan kepadamu berjalan dengan santai dan berbicara dengan nada rendah sehingga engkau nampak berwibawa dan terhormat.

Allah berfirman: "�Dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan..." (QS. 24:31) "�Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya�"(QS. 33:32)






Kedelapan, Allah memerintahkan kepadamu menghindari segala sesuatu yang dapat menarik perhatian kaum laki-laki kepada dirimu dan tergoda dengan penampilanmu dengan mengikuti prilaku kaum jahiliyah pertama atau kaum jahiliyah abad ini.

Rasulullah ` bersabda: "Wanita yang memakai pafum lalu keluar dari rumahnya agar orang-orang mencium aromanya adalah penzina" (HR. Abu Daud)





Kesembilan, Allah melarangmu berduaan dengan laki-laki selain suami dan mahrammu agar syetan tidak menjatuhkanmu ke jurang kehinaan. Rasulullah ` bersabda: "Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita dan janganlah pula ia pergi kecuali didampingi mahramnya" (Muttafaqun'alaih)

Saudariku, jika engkau renungkan semua perintah Allah ini dengan hati nurani yang jernih dan jujur, maka engkau akan mendapatkan bahwa Allah sungguh telah menempatkan dirimu bagaikan intan mutiara yang tersimpan di tempat yang terjaga yang tidak boleh dijamah oleh tangan orang yang di hatinya ada penyakit, engkau adalah makhluk mulia dan terhormat di dalam Islam.

Dan...dikaulah Anugerah TERindah...

by Aysha