Jumat, 17 Juni 2011

**~** Cinta Allah, Cinta Rasul-Nya, Cinta Makhluk : Berbeda Atau Berkaitan **~**



"Mulai hari ini, aku tidak akan mencintai siapapun lagi, tidak akan mengharapkan cinta makhluk lagi, cukuplah Cinta Allah dalam hatiku."

Seorang remaja penuh semangat mengeluarkan kata-kata yang sangat puitis lagi menarik.

"Cintaku hanya untuk-Mu, Ya Allah .."

Slogan yang ditulis oleh seorang remaja, yang penuh keinsafan.

"Cinta akan Allah sebelum cinta akan hamba-NYA."

Seorang sahabat menasehati sahabatnya yang lain. Mungkin kebanyakan kita pernah terbaca atau terdengar ungkapan ini dan dengan penuh keyakinan kita mendukung dan menyetujuinya.

Namun, pernahkah kita berpikir sejenak dan sedalam-dalamnya seberapa makna dan maksud yang terkandung dari ungkapan tersebut.

Jika diselidiki, kebanyakan yang mengungkapkan ayat-ayat seperti ini terdiri dari remaja yang pernah mengalami kekecewaan dalam cinta makhluk, atau ada juga remaja yang mengungkapkannya untuk menenangkan hati mereka sendiri, dek karena lonjakan dan galakan jiwa remaja yang sedang bergelodak, ibarat api yang sedang membara , dan ia dijadikan sebagai air untuk memadamkan kebakaran tersebut.

Secara umum, ayat-ayat ini tidak masalah sedikit pun dari segi maknanya, namun sedikit penelitian perlu diingat agar ayat yang memiliki isi yang baik ini, tidak disalah artikan, bahkan lebih bahaya jika digunakan di tempat yang salah.

"Kata kebenaran yang dimaksud (diinginkan) kebatilan." [Ali b. Abi Thalib]

Maksud asal ungkapan itu benar dan tepat dari segi syarak, namun maksud orang yang melafazkannya adalah di luar landasannya.

Sama-sama kita renungkan dalil-dalil beserta penjelasan yang akan disajikan di bawah, untuk merungkai kebuntuan dan kesalahpahaman tentang "ayat-ayat cinta" pada.

Dari Anas b. Malik, dari Nabi SAW telah bersabda:

"(Seseorang kamu tidak beriman (masih tidak sempurna iman) sehingga Allah dan Rasul-NYA lebih disayanginya (dicintainya) dari apa yang selain kedua itu (Allah dan Rasul-NYA )...)"
[Musnad Ahmad No.13991, Sheikh Shu'aib al-Arnouth menilai: Isnadnya Shahih menurut Persyaratan Al-Bukhari dan Muslim]

Hadis ini menerangkan dengan jelas prioritas untuk menempatkan Cinta dan Kasih Sayang kita kepada Allah dan Rasul-NYA melebihi segala-galanya, namun perlu diperhatikan Nabi SAW menempatkan jaringan yaitu mencintai Allah (didahulukan) dan kemudian Rasul-NYA, berarti Beliau SAW mengingatkan kita agar tidak pernah memutuskan dua jaringan ini dalam perasaan cinta dan kasih sayang kita.

Ibarat lagu dan irama, keduanya tidak bisa sama sekali dipisahkan, jika dipisahkan juga pincanglah kehidupan dan cacatlah kesempurnaan Iman kita kelak.

Sebagaimana dua kalimat syahadat yang selalu diucapkan di bibir kita, juga merangkaikan dua kesaksian untuk melengkapi keIslaman kita;

"Aku bersaksi bahwa Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Allah (saja), dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu utusan Allah."

Justru, "ayat-ayat cinta" pada, harus sedikit diperbaiki agar sesuai dan berketepatan dengan hadits dan anjuran Nabi SAW yaitu merangkaikan Cinta Allah dengan Cinta Rasul-Nya.

Beberapa persoalan timbul, apakah Cinta Allah dikaitkan dengan Cinta Rasul-NYA tidak bisa berhubungan dengan cinta kepada makhluk?

Apakah benar, Cinta Allah dan Rasul-NYA harus disempurnakan terlebih dahulu, sebelum mendapatkan cinta makhluk?

Coba kita singkapkan kembali sejarah penciptaan manusia, Allah menciptakan Adam pada mulanya, dan diciptakan Hawa setelah itu sebagai teman hidupnya, dimasukkan fitrah cinta dan kasih sayang sesama mereka. Oleh itu, perasaan yang kita miliki turun temurun ini bukanlah satu kesalahan atau dosa, bahkan semuanya untuk kebaikan dan kepentingan diri kita sendiri.

"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda -tanda untuk kaum yang berpikir. " [Ar-Rum, ayat 21]

Namun setiap kebaikan mampu menjadi keburukan jika salah aplikasi, ibarat seorang mekanik motor yang memiliki keterampilan tinggi, menggunakan keahliannya untuk memodifikasi motor untuk penggunaan mat rempit, maka berubahlah manfaat kepada mudarat.

Demikianlah juga cinta kepada makhluk, fitrah untuk manfaat, bukan fitnah untuk mudarat, yang penting sesuai saluran yang benar dan pedoman yang telah Allah dan Rasul-NYA tetapkan.

Untuk persoalan kedua, akan terjawab dengan pertanyaan ini, apakah kita mampu mendapatkan Cinta Allah dan Rasul-NYA secara sempurna sepenuhnya, bukankah manusia tidak pernah sunyi dari membuat dosa? Bahkan dikuatkan lagi dengan argumen bahwa tingkat keimanan kita juga ada download dan naik sebagaimana air pasang surut, dan itu juga lumrah yang Allah ciptakan pada kita.

"Katakanlah (Wahai Muhammad):" Jika kamu semua (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (sunnah-sunnahku), niscaya Allah akan mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. "Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". [Surah Ali-Imran, ayat 31]

Ayat ini jelas menerangkan, hubungan antara Cinta Allah dan Rasul-NYA, mulai dari mencintai Rasulullah SAW dengan mengikuti sunnah-sunnah Baginda SAW tanpa mempertikaikan atau mempertanyakan apabila jelas kebenarannya.

Jika hal ini dilaksanakan dengan penuh perhatian, dengan sendirinya Allah akan mencintai dan mengasihi kita, tanpa kita harus mengungkapnya dengan "ayat-ayat cinta" pada, bahkan Allah memberikan bonus yang lebih hebat, yaitu dijanjikan pengampunan dosa, sebagai imbalan besar karena menurut sunnah Rasul-NYA.

Kesempurnaan Cinta Allah dan Rasul-NYA adalah mustahil, namun mendahului Cinta Allah dan Rasul-NYA adalah perlu. Inilah maksud hadits yang telah dijelaskan barusan dan ayat di atas ini bahwa setiap yang kita lakukan di dunia ini adalah sebagai bekal dan harus berdasarkan ajaran yang dibawa oleh Rasulullah SAW sebagaimana yang diwahyukan oleh Allah SWT Itulah bukti besar Cinta kita kepada Allah dan Rasul-NYA, tanpa melebihkan sesuatu selain keduanya.

Singkatnya, Cinta Allah akan diperoleh dengan sendirinya, jika Cinta Rasu-NYA dititikberatkan sepenuh hati. Insya-Allah.

Apakah pula kaitan cinta Allah dan Rasul-Nya dengan cinta makhluk?
Begitulah halnya kaitan dengan cinta makhluk, disebut dalam satu hadis tersebut tiga orang yang datang bertanya istri-istri Nabi SAW terkait hal ibadah Beliau SAW di rumah, setelah mendengar hal tersebut, mereka mulai berpikir bahwa Nabi SAW yang telah diampuni segala dosa, begitu kuat ibadahnya , bagaimanalah nasib mereka jika dibandingkan dengan Nabi SAW

Lantas salah seorang dari mereka mengatakan bahwa akan shalat sepanjang malam (tanpa tidur) selama-lamanya, seorang lagi mengatakan bahwa akan berpuasa sepanjang hari tanpa berbuka, dan seorang lain pula mengatakan bahwa akan menjauhkan diri dari wanita-wanita, dan tidak akan menikah selama- lamanya. Pada saat itu Nabi SAW telah datang, dan bersabda:

"Kamukah yang telah berkata begini dan begini (sebagaimana yang mereka katakan barusan), DEMI ALLAH, aku adalah orang yang paling takut dan bertaqwa kepada Allah dari kalangan kamu semua, akan tetapi AKU BERPUASA dan BERBUKA, AKU SOLAT (malam) dan aku berbaring (tidur), AKU JUGA mengawini wanita-wanita, Siapa yang benci akan sunnahku, maka bukan dari kalanganku (yakni bukan umatku). "
[HSR al-Bukhari 5063, Muslim 3384, Ahmad 13568, an-Nasa'I 6 / 60]

Hadis panjang ini jelas menunjukkan kepentingan sesuai sunnah Nabi SAW, termasuk cinta makhluk menurut saluran yang benar, yaitu BERKAHWIN.

Dalam hadits lain juga disebut galakan menikah yaitu saluran benar untuk cinta makhluk, hadits berbunyi:

"Hai pemuda-pemuda: Siapa di antara kamu yang mampu nikah (disebut dalam syarah makna hadits ini," Nikah "berarti jima ', nafkah dan mahar"), maka Menikahlah; karena sesungguhnya ia (menikah) lebih menundukkan pandangan, lebih menjaga kemaluan. Dan jika dia tidak mampu, maka (dianjurkan) berpuasa; itu adalah penjagaan baginya. "[Al-Bukhari 1905, Muslim 1400]

Sunnah Nabi SAW adalah sesuatu yang syumul (lengkap dan sempurna) meliputi segala aspek kehidupan di dunia dan untuk akhirat. Cinta Makhluk dan berbagai lagi masalah kehidupan semuanya terdapat dalam Sunnah Nabi SAW, maka jika kita mengabaikannya, kita tidak menurut sunnah, bagaimana memperoleh cinta Allah?

Kesimpulannya, Cinta Allah adalah Cinta Teragung, namun dalam membicarakannya apakah kita di landasan yang benar atau sekedar menurut pikiran kita tanpa berdasarkan Kitab-NYA dan Sunnah Rasul-NYA, yang telah jelas menerangkan hubungan antara Cinta Allah, Cinta Rasu-NYA dan Cinta Makhluk yang menjadi pecahan kecil dalam Cinta RasuNYA ...

Akhirnya, tiadalah lagi masalah atau perselisihan tentang Cinta Allah adalah segala-galanya, bahkan dianjurkan sedikit modifikasi dari segi ungkapan ayat tersebut yaitu "Aku mencintai Allah dan Rasul-Nya dan aku mencintai makhluk pula menurut anjuran Rasul-Nya berlandaskan al-Quran dan Sunnah . "

Namun, jangan disalah artikan pula konten artikel ini, bukan untuk mempromosikan Cinta Makhluk tidak terbatas, segalanya telah dijelaskan sebelum ini dalam artikel "Cinta Halal dan Hikmah Istikharah" tentang cara-cara cinta makhluk yang sebenarnya menurut landasan al-Quran dan Hadis. Lihat artikel tersebut untuk mengetahuinya secara lebih lanjut. Wallahu'alam.

-Artikel iluvislam.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar