Selasa, 05 Juli 2011

**~** Allah Ajarkan Membawa Jiwa menghadap_Nya **~**



Kita terdiri dari jasad dan jiwa (ruh).
Kita sebenarnya adalah jiwa itu (ruh) yang nantinya akan dipanggil Allah karena adalah milik Allah dan pasti akan satu hari dipanggil Allah.

Setiap kali kita shalat, Allah memanggil jiwa kita untuk datang kepada, bukan sekedar jasad. Tapi sekian lama yang datang menghadap Allah hanyalah jasad kita tetapi tidak jiwa kita. Justru kita harus belajar untuk datang kepada Allah dengan jiwa kita bukan sekedar jasad. Kita harus belajar mengaktifkan jiwa kita.

Kenyataannya selama ini jiwa kita telah sering kali juga kita aktifkan. Misalnya ketika mengalami musibah, bayangkan bagaimana jiwa kita menghadap Allah. Seluruhnya kita hadapkan ke Allah, tidak memikirkan yang lain, kita total memohon pada Allah. Ketika kita membawa mobil (setelah bertahun-tahun pandai membawa mobil), jiwa kita yang mengendalikannya. Bayangkan bagaimana kita menghindari sesuatu ketika memutar stering, kita menghindari dengan jiwa kita terlebih dahulu.

Bayangkan pula ketika kita berolahraga dulu, kita bermain bola atau bola jaring atau acara olahraga lomba lari. Coba bayangkan betapa jiwa kita yang berlari ke sana ke sini dan badan kita hanya ikutkan saja. Kita sesuai jiwa kita selama ini. Ketika kita mendapat hasil yang baik dalam pelajaran atau mendapat promosi, jiwa kita bahagia dan seluruh tubuh kita akan ikut bahagia. Ketika kita marah, jiwa kita tak tertahan rasanya dan badan kita akan ikut marah (terkadang sampai ada yang bergetar karena kemarahan). Itu antara contoh-contoh bagaimana kita sudah pernah dan biasa mengaktifkan jiwa.

Hakikatnya kita semua punya jiwa dan kita sudah biasa mengaktifkan jiwa kita. Justru mari kita bawa jiwa kita menghadap Allah ketika shalat. Hadapkan wajah ke Allah (menghadap kiblat). Jasad sudah siap, sekarang siapkan jiwa untuk berjalan menujunya. Bawa jiwa kita ke Allah, tinggalkan jasad ini, dan perlahan-lahan bawa jiwa ke Allah. Kita akan dapat merasakan gerakan dari dalam, ada yang bergerak, menuju yang tak terbatas. Karena kita belum mahir, lakukan dengan perlahan-lahan dan rasakan ada gerakan dari dalam. Bawa jiwa itu menuju Dia Yang Tak Terbatas.

Sekarang takbirlah, Allahuakbar. tangan hanya sampai di dada (untuk perempuan) tapi jiwa terus mikraj ke Allah. Perlahan-lahan bacalah doa iftitah, bacalah dengan jiwa kita, bacaan dari jiwa lain dari bacaan hanya dari mulut. Sambung dengan al fatihah dan ayat yang mudah sambil jiwa terus bergerak ke Allah (jiwa dituju ke Allah).

Selanjutnya bawa jiwa untuk tunduk dan rukuk, biarkan dia turun untuk rukuk dan badan akan mengikuti saja. Lakukan dengan perlahan dan rasakan ada gerakan yang membawa jasad kita untuk rukuk. Kita rukukkan jiwa kita, selama ini hanya jasad saja kita bawa untuk rukuk. Setelah kita jatuh untuk rukuk, perlahan-lahan tempatkan tangan pada lutut dan bawa jiwa terus ke Allah dengan dalamnya, terus, terus, terus jangan berhenti, terus ke Allah dan kita akan dibawa ke satu daerah yang sangat dalam, luas tak terbatas.

Bangkitlah untuk iktidal dan bangkit juga dengan jiwa, jiwa akan bangkit dulu dan badannya akan ikut kemudian, serahkan segala pujian ke Allah (jiwa yang menyerahkan pujian ke Allah)

Kemudian bawalah jiwa kita untuk sujud ke Allah, dia akan segera untuk sujud, belum jasad kita sampai ke bawah, jiwa sudah sampai. Dan terus sujud, dengan dalamnya, terus bawa jiwa untuk sujud sehingga kita akan rasa ada gerakan ke bawah sehingga merasa menembus bumi sampai dalam yang luas tak terbatas. Rasakan ketenangan yang dialirkan Allah ke dalam jiwa ketika itu, biarkan, rasakan, nikmatilah keindahan sujud itu. Tidak mau bangun dari sujud? Ya begitulah nikmatnya yang tak terperi. Lanjutkan sujud dengan dalam. Kemudian dengan jiwa itu pujilah Allah dengan bacaan subhanarabbiyal 'ala wabihamdi.

Bangun dari sujud dan bawa jiwa untuk duduk, jiwa akan duduk dengan sopan dan akan terus rasa dilihat Allah tanpa hentinya. Tidak perlu kita bersusah payah untuk merasa dilihat Allah. Kapan kita pergi ke Allah dengan jiwa kita, otomatis akan rasa jiwa dilihat Allah karena yang merasa itu adalah jiwa dan dia sedang menuju ke Allah yang luas tak terbatas dan yang yang sangat menenangkan jiwa ketika bertemunya. Tidak perlu dipaksa untuk sadar ke Allah karena yang sadar itu adalah jiwa dan saat jiwa itu di bawah ke Allah pasti dia sadar ke Allah sebab dia sedang ke Allah.

Bacalah bacaan duduk antara dua sujud dengan jiwamu, kemudian bawa jiwa itu sujud kembali dan duduk tahiyat akhir untuk memberikan penghormatan tertinggi kepada Allah dan salam hormat buat Rasulullah, para sahabat dan para solihin.

Diakhiri dengan salam juga dengan jiwamu.

Sahabat yang dirahmati Allah, jiwa yang selalu ke Alla itulah jiwa yang mengingat Allah, maka di berikan ketenangan dan dilimpahi cahaya Allah yang akan membimbing jiwa itu. Jiwa yang tidak bisa melihat, tapi dibimbing oleh Yang Maha Melihat.

Bagaimana untuk membawa jiwa total ke Allah?. Ingatilah bagaimana Siti Hajar membawa jiwanya ke Allah saat sudah tidak ada ketergantungan pada suami, pada air, pada makanan, atau pada siapa saja. Hanya ada Allah dan jiwa itu di bawa total menyerah ke Allah.

Bila terasa tidak sedap di dalam jiwa (tidak tenang), berhenti dan bawa jiwa ke Allah untuk menanyakan. Allah akan menghadiahkan ketenangan ke dalam jiwa itu dan kemudian insyaAllah di beri petunjuk.

- Artikel iluvislam.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar