Selasa, 19 Juli 2011

~**~ Yang Penting Baik dan tidak Mengganggu ~**~



Wasiyat Allah agar manusia masuk islam secara kafah (total) benar-benar harus dicamkan baik-baik. Berislam secara kafah berarti berusaha memahami dan melaksanakan Islam secara menyeluruh dan tidak sepotong-sepotong (parsial). Memahami Islam secara parsial tidak akan membawa seseorang sampai kepada kebenaran yang hakiki. Sebaliknya sangat berpotensi menjerumuskan kepada kesesatan karena pemahaman yang timpang.Ibarat merawat kendaraan, yang dirawat hanya salah satu bagian saja tanpa memedulikan yang lain.

Sayangnya, tidak sedikit umat islam yang terjebak dalam pemahaman seperti ini. Misalnya persepsi sebagian orang yang hanya menititikberatkan pada sisi mu’amalah saja. Berdasarkan ungkapan “ad dienu mu’amalah” (agama adalah baiknya interaksi), tidak sedikit yang menyederhanakan pelaksanaan islam hanya pada aspek keharmonisan hubungan antar sesama dan mengabaikan sisi yang lain.

Saat melihat banyak polemik seputar jilbab, dakwah, amar makruf nahi mungkar dan gelora semangat dalam menjalankan Islam, mereka pun berujar “Jadi orang Islam itu nggak perlu macam-macam, yang penting baik pada orang lain, selesai.” Biasanya, statemen ini akan ditambahi dengan nukilan beberapa kasus yang seakan membenarkan persepsi semacam ini. Misalnya, seseorang yang rajin shalat tapi masih suka mencuri, rajin ngaji tapi gemar menggunjing atau wanita berjilbab tapi suka berkata kasar dan menyakiti tetangga. Jadi, shalat dan jilbab ternyata tidak menjadikan seseorang menjadi baik.

Hanya salah satu unsur islam

Tak dipungkiri bahwa berbuat baik pada sesama merupakan salah satu unsur penting dalam ajaran islam. Rasulullah bersabda,

الْمُسْلِمُمَنْسَلِمَالْمُسْلِمُونَمِنْلِسَانِهِوَيَدِهِ

“ Seorang muslim sejati adalah yang mampu membuat muslim lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” (Hr. Bukhari Muslim)

Hanya saja, hal ini hanyalah salah satu aspek dari Islam sebagai sebuah ajaran yang menyeluruh dan sangat luas. Menitikberatkan Islam hanya pada baiknya hubungan pada sesama dan mengabaikan hal-hal lain jelas telah membonsai Islam menjadi ajaran yang kerdil dan sempit.Apa jadinya jika semua muslim hanya menganggap Islam hanyalah baiknya hubungan dengan sesama?

Kalau dicermati, persepsi semacam itu sebenarnya hanyalah kedok dari keengganan melaksanakan Islam secara menyeluruh. Utamanya adalah bagian-bagian ajaran Islam yang hari ini tengah mendapat banyak cobaan berupa stigma buruk dan penentangan seperti jilbab, jenggot, dakwah dan jihad. Dengan memenangkan hati bahwa inti islam adalah baiknya hubungan dengan manusia, seseorang merasa tidak perlu lagi menjalankan perintah-perintah agama yang dianggap tak lebih dari sekadar simbol-simbol agama.

Pemahaman semacam ini makin kacau dengan penafsiran ‘baik dan tidak mengganggu orang lain” yang rancu. Baik dan tidak mengganggu yang dimaksud adalah ketika satu sama lain bisa saling mengerti dan merasa nyaman dan aman atas apapun yang dilakukan, termasuk saat melanggar syariat. Kalau benar Islam adalah agama yang substansinya hanya seperti ini, maka Islam tak layak disebut agama karena pada dasarnya seluruh manusia sudah memiliki konsep seperti itu, baik dan tidak saling mengganggu.

Padahal mengacu pada aspek amar makruf nahi mungkar, kadangkala ‘mengganggu orang lain’ jusrtu merupakan gambaran kebaikan yang sesungguhnya. Seseorang yang ‘mengganggu’ pasangan yang tengah berpacaran, selingkuh, minum miras, asyik bermain dan lupa shalat dan pelanggaran syariat yang lain dengan cara memperingatkan mereka bahwa yang mereka lakukan adalah dosa, pada dasarnya bukanlah mengganggu tapi justru tengah berbuat baik. Bukankah Rasulullah bersabda:

انْصُرْأَخَاكَظَالِمًاأَوْمَظْلُومًا» . قَالُوايَارَسُولَاللَّهِهَذَانَنْصُرُهُمَظْلُومًا،فَكَيْفَنَنْصُرُهُظَالِمًاقَالَ«تَأْخُذُفَوْقَيَدَيْهِ

“Tolonglah saudaramu yang dizhalimi atau yang berbuat dzalim.” Shahabat bertanya, “ wahai Rasulullah bagaimana kami menolong yang berbuat dzalim?” rasulullah menjawab, “ engkau cegah dia dari melakukan kedzaliman.” (HR. Bukhari)

Urusan personal

Kemudian, mengenai seorang muslim yang rajin shalat atau berjilbab tetapi masih saja mengganggu orang lain, sifatnya sangat kasusitik dan lebih merupakan kesalahan personal. Menarik kasus-lasus semacam ini untuk kemudian disimpulkan bahwa shalat dan jilbab bukanlah hal substansial karena tak membuat seseorang baik adalah kesimpulan yang sangat tidak cerdas dan sama sekali tidak bisa diterima.

Bahkan standar minimal seseorang disebut islam bukanlah baik kepada orang lain tapi shalat. Sebaik apapun seseorang pada sesama tapi tidak shalat, dia sama buruknya bahkan lebih buruk keislamannya dari yang rajin shalat tapi masih mencuri. Rasulullah bersabda, “ Batas antara kami (orang beriman) dan mereka (orang-orang kafir) adalah shalat, sesiapa yang meninggalkannya maka dia kafir.” (Hr. an Nasa’i).

Hablum minallah hablum minannas

Lebih dari itu Islam adalah poros yang mengatur hubungan dua arah; kepada Allah dan kepada sesama. Aspek yang paling prioritas adalah hubungan kepada Allah. Yaitu berusaha untuk selalu melaksanakan perintah-perintah berkaitan dengan ibadah dan hubungan langsung dengan sang Pencipta. Seiring dengan itu, menjalin hubungan dengan manusia dilakukan sesuai dengan rambu-rambu yang ditetapkan Islam.

Jadi, Islam bukanlah ‘yang penting berbuat baik pada orang lain dan tidak mengganggu” tapi berbat baik dan tidak menggangu itu penting karena merupakan bagian dari Islam. Wallahua’lam.

(taufik.a) ar-risalah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar